RADARSOLO.COM - Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Solo berada di peringkat keempat di Jawa Tengah dengan skor 26,54.
Meski masuk jajaran empat besar, capaian tersebut masih tergolong rendah.
Hal ini disampaikan Bunda Literasi Jateng Ning Nawal Arafah Yasin saat pembukaan Solo Literasi Festival di Dalem Joyokusuman, Kamis (17/9).
Arafah mengatakan, capaian tersebut tidak boleh membuat Kota Solo cepat puas.
Terlebih, masih terdapat sejumlah indikator yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan kualitas literasi masyarakat.
Baca Juga: Cetak Ulang Buku Sekolah Jangan Jadi Proyek, Akademisi: Harus Perkuat Literasi
"IPLM Surakarta ini peringkat ke-4 di Jateng dengan skor indeks 26,54 setelah Kota Magelang. Harapannya nanti bisa naik ke angka nomor satu," kata Ning Nawal.
Dia menyebut, IPLM tertinggi di Jawa Tengah saat ini berada di Kabupaten Kebumen dengan skor 40,36.
Sementara capaian IPLM Jawa Tengah berada di angka 38,86 dan masih masuk kategori rendah.
Menurut Ning Nawal, kondisi tersebut perlu dibuka sebagai bahan evaluasi sekaligus pemantik semangat untuk memperbaiki budaya literasi.
Peningkatan IPLM tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan perpustakaan, tetapi membutuhkan pola pengembangan literasi yang lebih tepat.
"Saya justru lebih suka membuka data ini untuk memantik semangat literasi. Harus ada pola perbaikan dan peningkatan untuk memperbaiki IPLM dan TKM. Ini sebuah kenyataan," ujarnya.
Selain IPLM, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Kota Surakarta juga masih berada dalam kategori rendah dengan skor 56,96.
Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan TKM Jawa Tengah yang mencapai 57,11 dan sama-sama masuk kategori rendah.
Ning Nawal menilai peningkatan literasi perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua tidak cukup hanya meminta anak membaca, tetapi juga perlu memberikan contoh dalam membangun kebiasaan membaca.
"Di skup paling kecil keluarga misal, orang tua suka menuntut anaknya untuk membaca sedangkan dia sendiri lebih memilih scroll HP," katanya.
Penguatan literasi juga perlu memperhatikan kemampuan memahami bacaan.
Baca Juga: Perkuat Literasi Digital Pelajar, Polresta Klaten Bekali 150 Siswa SMA Pelatihan Paham AI
Ning Nawal mencontohkan anak usia 4-6 tahun yang sudah mampu mengeja dengan cepat, tetapi belum tentu memahami makna bacaan maupun mengkorelasikannya.
"Ini harus menjadi kepedulian kita bersama, selain itu kita harus membangun kolaborasi dengan semua komunitas yang ada. Dan tentu yang terpenting untuk mendukung IPLM dan TKM kita adalah kebijakan pemerintah," tegasnya.
Sementara itu, Bunda Literasi Kota Solo Venessa Winastesia mengatakan, dari evaluasi yang dilakukan, salah satu hal yang masih perlu diperkuat dalam IPLM Solo adalah tingkat kehadiran masyarakat di perpustakaan.
"Kita tidak boleh cepat puas karena setelah saya break down itu nilai dari IPLM dari Kota Solo sendiri, ternyata masih ada nilai yang kurang yakni di tingkat kehadiran di perpustakaan," kata Venessa.
Pemkot Solo pun mulai menyiapkan aktivasi perpustakaan kampung agar keberadaannya lebih dekat dengan masyarakat. Kegiatan di perpustakaan tidak hanya diarahkan pada aktivitas membaca, tetapi juga dikembangkan menjadi ruang berkegiatan bagi masyarakat.
Venessa mengatakan, konsep tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketertarikan masyarakat, terutama anak-anak, untuk datang ke perpustakaan.
Selain itu, Pemkot Solo juga menyerahkan 100 eksemplar hibah buku untuk masing-masing kecamatan di Kota Solo dan Alat Peraga Edukasi (APE) bagi 18 perpustakaan kampung.
Upaya itu menjadi bagian dari rangkaian penguatan literasi yang dilakukan melalui Solo Literasi Festival 2026. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo