Mendiktisaintek Dorong ISI Surakarta Perkuat Identitas Kampus Seni

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 07:25 WIB
Rektor ISI Surakarta Bondet Wrahatnala bersama Mendiktisaintek Brian Yuliarto saat kunjungan kerja ke kampus setempar, Jumat (18/9). (Alfida Nurcholisah/Radar Solo)
Rektor ISI Surakarta Bondet Wrahatnala bersama Mendiktisaintek Brian Yuliarto saat kunjungan kerja ke kampus setempar, Jumat (18/9). (Alfida Nurcholisah/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta didorong tidak sekadar mengejar model perguruan tinggi umum dalam pengembangan institusi.

Kampus seni itu justru diminta memperkuat kekhasan yang menjadi modal utama, yakni seni, budaya, tradisi, dan ekosistem kreatif yang telah tumbuh puluhan tahun.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto saat melakukan kunjungan kerja ke ISI Surakarta, Jumat (18/9).

Menurut Brian, ISI Surakarta memiliki modal budaya (cultural capital) yang tidak mudah ditiru perguruan tinggi lain.

Modal tersebut meliputi tradisi artistik, pengetahuan lokal, maestro seni, repertoar karya, arsip budaya, komunitas seni hingga ekosistem penciptaan yang dekat dengan kebudayaan masyarakat.

Baca Juga: Tak Sekadar Mewarnai, Siswa SD di Solo Belajar Sejarah Wayang Babad Kartasura: FSRD ISI Surakarta Ajak Ratusan Siswa SDN Mojosongo V Surakarta Cinta Warisan Budaya Sejak Dini

“Jangan menjadi universitas umum versi kecil. Jadilah kampus seni yang sangat kuat identitasnya,” ujar Brian.

Ia menilai universitas umum memiliki keunggulan pada keluasan disiplin ilmu, laboratorium sains, teknologi, kedokteran, dan berbagai bidang lainnya.

Sementara ISI Surakarta memiliki kekuatan berbeda yang justru perlu dikembangkan menjadi keunggulan kompetitif.

Karena itu, Brian meminta ISI Surakarta menjawab satu pertanyaan strategis dalam pengembangan kampus. Yakni, apa yang hanya dapat dilakukan ISI Surakarta tetapi sulit dilakukan perguruan tinggi lain.

“Seni merupakan bagian penting dari kekayaan dan keunikan Indonesia yang harus dikelola secara serius agar mampu berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Brian juga mendorong penguatan pendidikan seni melalui tata kelola akademik, pengembangan talenta, serta kolaborasi yang dapat membawa kekayaan budaya Indonesia ke tingkat nasional maupun internasional.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Mendiktisaintek menggali perspektif untuk pengembangan pendidikan seni dan budaya di Indonesia.

ISI Surakarta menjadi kampus seni pertama yang dikunjungi dalam rangkaian tersebut.

Sementara itu, Rektor ISI Surakarta Bondet Wrahatnala menegaskan komitmen ISI Surakarta untuk melestarikan seni dan budaya, menghasilkan lulusan profesional, serta memperkuat penelitian dan kolaborasi nasional maupun internasional.

Baca Juga: Tim Memoria PPK Ormawa DKV ISI Surakarta Gelar Ekshibisi Budaya: Wujudkan Laweyan sebagai Living Heritage

Pengembangan kampus juga diarahkan pada penguatan fasilitas pembelajaran, digitalisasi, dan sentralisasi layanan untuk meningkatkan efektivitas pelayanan akademik maupun administrasi.

Dengan ekosistem seni yang telah terbangun, ISI Surakarta diharapkan tidak hanya berperan dalam pelestarian warisan budaya.

Kampus tersebut juga didorong menghasilkan inovasi dan memperluas diplomasi budaya Indonesia melalui semangat Diktisaintek Berdampak. (alf)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
Kampus seni dan budaya Mendiktisaintek kunjungan kerja isi surakarta