RADARSOLO.COM - Gunting dan kertas warna berserakan di tengah kerumunan siswa SMP berseragam pramuka.
Tangan-tangan kecil itu sibuk memotong, melipat, lalu menempelkan potongan gambar ke lembaran kertas.
Sesekali terdengar percakapan dan tawa dari anak-anak yang mengikuti workshop di Ndalem Joyokusuman, belum lama ini.
Sekilas, aktivitas itu seperti membuat kerajinan biasa.
Namun, di balik potongan kertas yang disusun menjadi pop up.
Anak-anak tengah belajar sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari yakni memilah sampah.
Kegiatan tersebut digelar komunitas Yuk Belajar Seni (YBS) dalam rangkaian Solo Literasi Festival (SLF) 2026 di Dalem Joyokusuman, Senin (21/9).
Puluhan anak diajak mengenali jenis sampah sekaligus memahami cara mengurangi timbulan sampah melalui aktivitas seni.
Founder Yuk Belajar Seni Ridya Khoirunnisa mengatakan, metode tersebut sengaja dibuat agar anak tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi ikut terlibat langsung dalam proses belajar.
"Kami mengedukasi soal pilah sampah, sesuai visi misi Solo. Kami mengedukasi anak supaya paham pilah sampah," kata Ridya.
Sebelum mulai membuat pop up, peserta dikenalkan dengan tiga kategori sampah, yakni organik, anorganik, dan residu.
Setelah memahami perbedaannya, mereka kemudian menempelkan gambar atau contoh sampah ke dalam kategori yang sesuai.
Aktivitas berlanjut dengan menuliskan kembali pengetahuan yang mereka dapat.
Anak-anak juga dikenalkan dengan cara sederhana mengurangi sampah, salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Bagi Ridya, kegiatan semacam ini membuat materi lebih mudah melekat karena anak belajar sambil melakukan.
"Menurutku metode ini lebih efektif dan mudah diingat, karena mereka ada aktivitas menggunting dan menempel, tidak hanya metode guru menjelaskan di depan kelas," ujarnya.
Baca Juga: World Cleanup Day Di Sukoharjo, Sampah Harus Dipilah
Sekira 20 anak mengikuti workshop membuat pop up.
Di sisi lain, sejumlah 30 anak tengah asyik menggoreskan krayon di atas buku gambar.
"Lewat seni mereka bisa berekspresi melalui warna dan bentuk, sekaligus memahami bahwa setiap sampah memiliki kategori dan cara penanganan yang berbeda," tambah Ridya.
Ia menilai, seni memiliki ruang besar untuk mendukung proses belajar anak.
Ketika materi disampaikan melalui kegiatan yang menyenangkan, anak lebih mudah menikmati proses sekaligus mempraktikkan apa yang dipelajari.
"Seni itu kan menyenangkan untuk anak jadi mereka jauh lebih enjoy belajarnya. Selain itu dapat melatih kreativitas anak. Lebih imajinatif dan langsung praktik," jelasnya.
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia anak-anak.
Baca Juga: Isi Tuntutan Gugatan Ijazah Gibran di MK, Minta Diskualifikasi hingga Pilih Wapres Baru
Pengetahuan tentang sampah tidak berhenti pada kemampuan menyebutkan jenisnya, tetapi diarahkan menjadi kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan dalam keseharian.
Sementara itu, ajang ini mendapat atensi dari Bunda Literasi Kota Solo Venessa Winastesia Respati Ardi.
Menurutnya, edukasi kepada anak dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan.
Seni menjadi salah satu media yang membuat proses pembelajaran lebih menarik dan dekat dengan dunia anak.
Dari selembar kertas yang dilipat dan ditempeli gambar, anak-anak belajar bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Memilah sampah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai bisa menjadi kebiasaan sederhana yang dikenalkan sejak dini. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo