RADARSOLO.COM - Bermula dari banyaknya siswa yang terlambat datang ke sekolah karena bangun kesiangan, dua siswa SMPN 23 Solo ciptakan bantal alarm pintar atau smart pillow.
Bantal ini dirancang untuk membangunkan pemakainya, sesusai timer yang tersedia.
Bantal alarm pintar ini dikreasi siswi kelas VIII Aqilla Khoirunnisa dan siswi kelas IX Destiana Syifa.
Mereka mengembangkan alat tersebut, setelah melihat kondisi sejumlah siswa yang sering terlambat ke sekolah.
“Awal Maret kami riset. Kebetulan banyak teman-teman yang nyambi kerja sepulang sekolah.. Jadinya mereka sering telat datang sekolah karena bangun kesiangan,” kata Aqilla.
Baca Juga: Gazebo Pandawa Lima, Cara Unik Kenalkan Nilai-Nilai Pancasila Di SMPN 2 Solo
Dari persoalan tersebut, mereka mulai mencari ide melalui internet.
Hasilnya, mereka menemukan konsep smart pillow sebagai solusi.
Beda dengan alarm ponsel, alat tersebut dibuat terintegrasi dengan bantal.
Menggunakan sensor tekanan untuk mendeteksi keberadaan pengguna.
Komponen yang digunakan antara lain bantal, sensor tekanan piezoelektrik, LCD, Arduino Uno, serta buzzer. Arduino Uno berfungsi sebagai pengendali sistem.
Sedangkan buzzer menghasilkan suara alarm.
“Alarmnya akan berhenti ketika penggunanya benar-benar bangun dari bantal,” imbuhnya.
Sistem tersebut belum menggunakan aplikasi. Pengaturan alarm dilakukan melalui pemrograman secara manual.
Aqilla dan Destiana belajar pemrograman dengan bimbingan dari guru.
“Jadi untuk jamnya bisa disesuaikan. Sementara masih melalui pemrograman. Saat alarm berbunyi, sensornya aktif. Kalau pengguna belum bangun, alarm terus berbunyi. Tapi ini belum ada getarnya,” bebernya.
Selama proses pengembangannya, keduanya membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan.
Baca Juga: Belajar Algoritma Tanpa Gawai, Mahasiswa UMS Kembangkan Ular Tangga Edukatif
Salah satu tantangan yang dihadapi, yakni pemrograman. Sebab mereka belum memahami coding.
“Kabelnya yang di dalam itu kadang mudah lepas. Kami rancang tanpa radiasi, meskipun langsung digunakan di bawah kepala,” bebernya.
Pembuatan bantal alarm pintar tersebut menghabiskan biaya sekira Rp 320 ribu.
Meski masih berupa prototipe, keduanya berencana mengenalkan inovasi tersebut ke sejumlah sekolah.
“Jadi, kami mengumpulkan teman-teman yang mungkin berkomitmen untuk bisa berubah dan tidak bangun kesiangan. Nanti kami sosialisasi, kemudian dievaluasi dan direfleksikan,” ujarnya.
Keduanya sebelumnya juga sempat membawa inovasi tersebut di ajang Krenova 2026.
Meski belum juara, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan inovasi. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo