RADARSOLO.COM - Ratusan siswa SMPN 18 Kota Solo tidak lagi belajar di kelas pada Selasa, (6/10).
Mereka sudah bersiap menajajakan dagangan di stand-stand halaman sekolah untuk meramaikan hari jadi sekolah yang ke-47 tahun.
Beragam kreasi ditampilkan mulai dari kirab budaya, keterampilan karawitan, ketoprak humor, hingga jualan makanan tradisional yang dibuat oleh siswa.
Program tersebut tidak hanya mengangkat budaya Jawa, tetapi juga dirancang untuk mengembangkan "keprigelan urip", kompetensi sosial, hingga potensi kewirausahaan.
Baca Juga: Dunia Kerja Berubah, Siswa SMKN 1 Bulukerto Wonogiri Didorong Berwirausaha
Kepala SMPN 18 Solo Wegang Sri Sulanjari menjelaskan, sekolah memiliki program khusus "Delaska Ngrembaka" yang merupakan akronim semangat sekolah untuk nggayuh prestasi sekaligus membangun karakter.
Program itu lahir setelah pihak sekolah memetakan berbagai aset dan potensi yang dimiliki sekolah untuk dikembangkan menjadi program pendidikan karakter.
“Delaska Ngrembaka ini sebenarnya kan akronim dari SMP Negeri 18 Kota Surakarta. Nggayuh prestasi, bangun karakter sesuai arahan Pak Wali, Pak Kadinas,” ujarnya.
Baca Juga: SDN Madyotaman Buka Bimbel Gratis ke Anak-Anak, Ortu Bebas Olahraga di Halaman
Salah satu perhatian utama sekolah adalah penguatan adab dan karakter siswa.
Pembiasaan ini dilakukan dalam berbagai program sekolah seperti pembiasaan bahasa Jawa, pakaian Jawa, hingga life skill seperti menjahit dan melipat baju.
"Delaska Ngrembaka ini kita wujudkan dalam program 5S, Radar (Rabu dolanan bareng konco), pengenalan wayang dam kesenian lainnya termasuk lakon. Selain itu, untuk mengasah life skill anak-anak kita juga ajarkan melipat baju, menjahit hingga berwirausaha," jelasnya.
Kegiatan tersebut dikembangkan melalui konsep ketahanan pangan.
Siswa akan mengolah bahan pangan lokal seperti singkong, umbi-umbian, dan jagung menjadi makanan dengan konsep modern.
"Salah satu contohnya hari ini, kita mengasah jiwa kewirausahaan anak-anak dengan market day, tiap kelas mendapat jatah jualan makanan tradisional berbeda," beber Wegang.
Baca Juga: Plafon SDN Cepoko 2 Sragen Roboh Menimpa Guru, Dipicu Pergeseran Tanah
Para murid berjualan berbagai makanan tradisional seperti ongol-ongol, nagasari, caranggesing dan serabi. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar berjualan, tetapi juga mengenal kembali makanan tradisional yang mulai jarang mereka konsumsi.
“Jadi anak-anak tahu, oh itu yang namanya klpon, ini yang namanya dawet, ongol-ongol, getuk dan sebagainya,” ujarnya.
Sekolah berharap kegiatan tersebut menjadi salah satu cara mengenalkan pangan tradisional di tengah kebiasaan anak yang lebih dekat dengan makanan modern.
Baca Juga: Job Fair di Gedung GPH Joyokusumo ISI Solo Sediakan 2.300 Lowongan, Batas Usia Jadi Kendala
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo Dwi Aryatno mengatakan, pengembangan program di setiap SMP memang tidak harus seragam.
Masing-masing sekolah memiliki potensi dan peminatan yang berbeda, sehingga program dapat disesuaikan dengan karakter sekolah maupun kompetensi siswanya.
“Setiap sekolah masing-masing punya potensi sama peminatan yang berbeda,” kata Dwi.
Dia mencontohkan SMPN 15 Solo yang memiliki kultur sepak bola kuat sehingga potensi tersebut berkembang melalui pembinaan olahraga. Sementara SMPN 18 memiliki potensi pada bidang karawitan dan wayang.
Menurut Dwi, kuat tidaknya sebuah program juga bergantung pada peran sekolah dalam menggerakkan potensi tersebut.
Minat siswa untuk terlibat pun cenderung mengikuti kompetensi yang dimiliki.
Baca Juga: Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Sukoharjo Cukup Tinggi, Sediakan Layanan Pendampingan
“Karena mereka yang menggerakkan. Tapi peminatan anak untuk terlibat di kegiatan itu kecenderungan memang basisnya pada kompetensi anak,” tandasnya.
Menurut Dwi, pemetaan potensi menjadi penting agar program yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan karakter masing-masing sekolah. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo