Kata-kata Ini Akrab di Telinga Orang Jawa, Ternyata Serapan dari Bahasa Belanda

Niko auglandy • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:18 WIB
Ilustrasi guru di era Hindia Belanda tengah mengajarkan bahasa Jawa dan Bahasa Belanda ke muridnya.
Ilustrasi guru di era Hindia Belanda tengah mengajarkan bahasa Jawa dan Bahasa Belanda ke muridnya.

RADARSOLO.COM - Bahasa Jawa memiliki kekayaan kosakata yang berkembang melalui perjalanan sejarah dan interaksi budaya. Salah satu pengaruh yang masih dapat ditemukan hingga kini adalah serapan dari bahasa Belanda. Sejumlah kata tersebut begitu akrab dalam percakapan sehari-hari, mulai dari sepur, pit, hingga potlot.

Menariknya, sebagian masyarakat mungkin tidak menyadari bahwa kata-kata yang digunakan dalam keseharian itu memiliki kaitan dengan bahasa Belanda. Bentuk dan pelafalannya mengalami penyesuaian sehingga terasa alami ketika diucapkan dalam bahasa Jawa.

Baca Juga: #PersisOnThisDay : Kejadian Kelam di Tanah Galuh

Salah satu unggahan media sosial dari akun LangitPoetih turut mengangkat topik mengenai kosakata bahasa Jawa yang berkaitan dengan bahasa Belanda. Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana pertemuan dua budaya dapat meninggalkan jejak yang bertahan hingga beberapa generasi.

Masuknya kosakata Belanda ke dalam bahasa Jawa tidak terlepas dari sejarah panjang hubungan masyarakat Nusantara dengan pemerintahan kolonial Belanda. Kontak tersebut berlangsung dalam berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, pendidikan, transportasi, hingga kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Pemain Timnas U-17 Belajar Mapel Bahasa Jawa di SMAN 4 Solo, Tak Ada Perlakuan Khusus

Dalam proses penyerapan, kata-kata asing dapat mengalami perubahan bunyi maupun ejaan agar lebih mudah digunakan oleh penutur bahasa penerima. Setelah digunakan secara turun-temurun, sejumlah istilah kemudian menjadi bagian dari kosakata yang lazim dalam percakapan masyarakat.

Salah satu contoh yang cukup dikenal adalah sepur. Kata ini berkaitan dengan kata Belanda spoor, yang berarti rel atau jalur kereta api. Dalam penggunaan bahasa Jawa, sepur kemudian dikenal sebagai sebutan untuk kereta api.

Ada pula kata pit, yang digunakan masyarakat Jawa untuk menyebut sepeda. Kata tersebut berkaitan dengan fiets dalam bahasa Belanda. Meskipun bentuknya berbeda, keduanya memiliki makna yang sama, yakni kendaraan roda dua yang dikayuh.

Kosakata lain yang juga akrab di telinga masyarakat adalah potlot. Kata ini berkaitan dengan potlood dalam bahasa Belanda yang berarti pensil. Istilah tersebut masih dapat ditemukan dalam percakapan sebagian masyarakat Jawa, meskipun kata pensil juga banyak digunakan.

Pengaruh bahasa Belanda juga terlihat pada kata kantor, yang berkaitan dengan kantoor. Kata ini digunakan untuk menyebut tempat bekerja atau instansi. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah tersebut telah menjadi bagian dari kosakata bahasa Indonesia dan juga lazim digunakan oleh masyarakat Jawa.

Hal serupa dapat ditemukan pada kata koran, yang memiliki hubungan dengan krant dalam bahasa Belanda. Keduanya merujuk pada surat kabar, media yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Dalam bidang transportasi, kata masinis juga memiliki kaitan dengan machinist. Istilah tersebut digunakan untuk menyebut orang yang mengoperasikan lokomotif kereta api. Sementara itu, kata sopir berkaitan dengan chauffeur, yakni sebutan untuk pengemudi kendaraan.

Pengaruh kosakata Belanda juga ditemukan dalam istilah profesi dan jabatan. Kata direktur, misalnya, berkaitan dengan directeur, yang merujuk pada pimpinan perusahaan atau organisasi. Adapun insinyur memiliki hubungan dengan ingenieur, istilah yang digunakan untuk menyebut ahli teknik.

Selain itu, terdapat kata prei yang digunakan dalam sejumlah percakapan bahasa Jawa untuk menyebut libur atau tidak bekerja. Kata tersebut dikaitkan dengan vrij dalam bahasa Belanda, yang memiliki arti bebas atau tidak terikat. Dalam penggunaannya, prei dapat merujuk pada keadaan ketika seseorang tidak masuk kerja atau sedang menikmati waktu libur.

Berbagai contoh tersebut memperlihatkan bahwa penyerapan kosakata tidak selalu mempertahankan bentuk asli kata sumber. Perubahan bunyi dan ejaan dapat terjadi seiring dengan proses adaptasi dalam bahasa penerima. Faktor kebiasaan penutur dan perkembangan penggunaan bahasa turut memengaruhi bentuk kata yang akhirnya dikenal masyarakat.

Kata Serapan Menjadi Bagian dari Bahasa Sehari-hari

Sejumlah kata yang memiliki kaitan dengan bahasa Belanda kini terdengar akrab dalam percakapan masyarakat Jawa. Kata sepur, misalnya, telah lama digunakan untuk menyebut kereta api, sedangkan pit menjadi istilah yang umum untuk sepeda dalam percakapan sehari-hari.

Penggunaan kata-kata tersebut menunjukkan bahwa bahasa terus berkembang mengikuti perubahan sosial dan hubungan antarmasyarakat. Kosakata yang awalnya berasal dari bahasa lain dapat bertahan dan menjadi bagian dari kebiasaan berbahasa, bahkan ketika asal-usulnya tidak lagi disadari oleh sebagian penutur.

Penyerapan kosakata asing juga memperlihatkan bahwa bahasa bukan sesuatu yang statis. Perubahan dapat berlangsung melalui interaksi budaya, kebutuhan komunikasi, serta kebiasaan penutur dalam menggunakan istilah tertentu.

Dengan demikian, kata-kata seperti sepur, pit, dan potlot bukan sekadar kosakata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut juga menjadi pengingat bahwa perjalanan sejarah dan pertemuan budaya dapat meninggalkan jejak dalam bahasa yang masih digunakan hingga sekarang. (Carrieolis Ratu Lathiifu)

 

 
Editor : Niko auglandy
jawa belanda bahasa kosakata