Gencarkan Setahun Wajib PAUD, Sosialisasi Program Soloku Digdoyo

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:31 WIB
Ilustrasi Wali Kota Solo Respati Ardi, Bunda PAUD Venessa Winastesia, dan Kepala Disdik Dwi Ariyatno dampingi anak-anak saat Gebyar PAUD 2026 di Taman Balekambang, Rabu (29/7). (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)
Ilustrasi Wali Kota Solo Respati Ardi, Bunda PAUD Venessa Winastesia, dan Kepala Disdik Dwi Ariyatno dampingi anak-anak saat Gebyar PAUD 2026 di Taman Balekambang, Rabu (29/7). (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Angka partisipasi sekolah (APS) jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kota Solo cukup tinggi, di kisaran 97,56 persen.

Meski demikian, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo gencarkan gerakan wajib belajar (wajar) satu tahun prasekolah.

Penguatan dilakukan melalui sosialisasi program Soloku Digdoyo di balai kota, Kamis kemarin (15/10).

Wali Kota Solo Respati Ardi menjelaskan, pemkot terus berupaya meningkatkan pelayanan PAUD.

Meskipun diakui, APS di Kota Bengawan sudah melebihi nasional. 

Baca Juga: 6 Tips Pakai ChatGPT untuk Latihan Speaking Bahasa Inggris Pemula

“Yang perlu ditingkatkan sebenarnya pelayanannya. Termasuk kesadaran masyarakat agar mau menyekolahkan anaknya satu tahun prasekolah. Karena ini penting di pendidikan anak usia dini,” jelas Respati.

Pemkot menyiapkan strategi inovatif untuk meningkatkan partisipasi PAUD, melalui stimulan SPP PAUD.

Bantuan biaya pendidikan ini menyasar 1.600 siswa PAUD, sebagai upaya meningkatakan partisipasi masyarakat di sekolah swasata. 

Baca Juga: Sikapi Aturan Tinggal Kelas, Disdik Lebih Optimalkan Remedial

“Selain SPP PAUD, kami juga membangun dua PAUD negeri baru. Jadi ada sembilan PAUD negeri di Kota Solo,” imbuh Respati.

Bunda PAUD Kota Solo Venessa Winastesia menambahkan, gerakan Soloku Digdoyo merupakan program yang dirancang untuk memperkuat keterlibatan seluruh pihak.

Terutama memastikan anak memperoleh layanan pendidikan yang layak.

Program ini mencakup peningkatan partisipasi PAUD, pelibatan orang tua, penguatan komunitas, serta kolaborasi dengan berbagai mitra.

“Setelah saya sambang PAUD, ternyata masih banyak sekolah swasta yang perlu perbaikan sarana prasarananya. Kita tidak mau anak-anak sekolah di tempat yang kondisinya membahayakan jiwa mereka,” kata Venessa.

Selain memperluas akses, program Soloku Digdoyo juga mendorong peningkatan kompetensi lewat guru dan orang tua.

Baca Juga: Gencarkan Literasi, TP PKK Pokja 2 Kota Solo Gelar Lomba Membaca Nyaring

Guru PAUD didorong meningkatkan kapasitas dengan belajar dan mengimplementasikan strategi efektif.

Sedangkan orang tua diimbau mulai mempraktikkan read aloud atau membaca nyaring.

“Soloku Digdoyo ini digaungkan dengan berbagai program seperti read aloud, gerakan ayah mengantar anak masuk sekolah (Gamas), serta gerakan ayah mengambil rapor (Gemar),” beber Venessa.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo Dwi Ariyatno mengaku wajar setahun prasekolah menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia (SDM) unggul.

Baca Juga: SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo Dulang Tujuh Prestasi di OSMJT 2026

Disdik menargetkan peningkatan kesadaran masyarakat lewat kader posyandu kecamatan, kelurahan, serta keterwakilan OPD dalam mewujudkan layanan pendidikan yang inklusif dan berkualitas.

“Pemkot Solo mendorong pemenuhan akses dan partisipasi anak dalam pendidikan prasekolah. Salah satunya melalui implementasi wajib belajar satu tahun prasekolah, sebelum memasuki sekolah dasar (SD),” ujarnya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
soloku digdoyo wajib belajar setahun prasekolah PAUD