RADARSOLO.COM – Motif batik bukan sekadar filosofi leluhur. Di dalamnya juga tersirat sejarah dan identitas daerah.
Inilah yang coba dihidupkan melalui Batik Balontang Kasmaran, motif hasil riset kolaboratif Universitas Sebelas Maret (UNS), Tiga Serangkai University (TSU), dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen.
Motif tersebut tampil dalam Sragen Batik Heritage 2026, belum lama ini.
Batik Balontang menawarkan corak sekaligus menelusuri jejak sejarah Bumi Sukowati, melalui manuskrip kuno Babad Giyanti.
Baca Juga: Oma-Oma Pamer Batik Elegan Karya Desainer Top di TBJT Solo
Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen Johny Adhi Aryawan menjelaskan, Babad Giyanti merupakan salah satu referensi penting dalam penelusuran asal-usul motif batik tersebut.
“Secara leksikon, kata Plontang merujuk jenis burung kecil endemik berbulu hitam-putih yang hidup berpasang-pasangan. Sehingga dikaitkan dengan makna kasmaran,” jelas Johny.
Burung menjadi elemen utama desain. Sementara itu, kembang kates, tumbuhan adem-adem, dan isen-isen atau ragam isian batik melengkapi komposisi motif.
Baca Juga: Bali Punya Batik Ulamsari Mas: Ada Filosofi Kehidupan Laut
Dosen Prodi Desain Mode Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS Rudianto menambahkan, riset tersebut berupaya menghubungkan pengetahuan sejarah dengan desain kontemporer.
“Melalui penelitian ini, kami tidak sebatas menciptakan motif baru. Kami juga ingin menghidupkan kembali narasi sejarah dan kearifan lokal Sragen, ke dalam bahasa visual batik,” ungkapnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo