RADARSOLO.COM – Insiden mengejutkan terjadi di halaman hotel saat debat Pilkada Solo 2024 berlangsung.
Massa pendukung pasangan calon (Paslon) nomor urut 01, Teguh Prakosa dan Bambang Gage, dilempari roti oleh massa Paslon 02.
Kejadian ini memicu reaksi dari Tim Pemenangan Paslon 01, yang menyayangkan tindakan tersebut dan menyerukan pentingnya menjaga etika dalam berdemokrasi.
Paulus Haryoto, anggota Tim Pemenangan Teguh-Gage, mengonfirmasi adanya provokasi tersebut.
“Bahwa rombongan kita ada lemparan dari kubu sebelah, roti. Sempat tegang sebentar, panas. Tapi teman-teman bisa mengendalikan diri,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada kontak fisik dalam kejadian itu berkat briefing yang diberikan sebelumnya.
“Artinya tidak ada kontak fisik. Ya, semacam memancing provokasi untuk anarki. Tapi puji Tuhan, anak-anak sudah kita briefing bahwa tidak perlu menanggapi kepancingan anarki dan sebagainya,” tambah Paulus.
Trihono, anggota lain dari Tim Pemenangan Paslon 01, menyayangkan insiden ini bukan semata karena roti yang dilempar, tetapi karena simbol yang tersirat di balik tindakan tersebut.
Ia menyoroti masih banyaknya warga di Surakarta yang kesulitan untuk sekadar makan sepotong roti.
“Kami tadi menyayangkan insiden dari kubu sebelah yang melempar roti. Bukan masalah roti yang dilempar. Ini masalah bagaimana, mohon maaf, kita selama ini dalam debat dihadapkan dengan diskusi ketahanan pangan. Masih banyak warga di kota Surakarta yang, mohon maaf, makan satu genggam roti ini masih susah,” ungkap Trihono.
Ia menilai tindakan tersebut mencerminkan sikap yang kurang menghargai nilai-nilai demokrasi.
Baca Juga: Pizza Hut dan KFC Indonesia Tutup Puluhan Gerai hingga PHK Ribuan Karyawan, Imbas Aksi Boikot?
“Maneman mas, mubadzir mas. Roti kuwi yo iso maregi, iso nguripi (sangat disayangkan, mubadzir mas. Roti itu bisa mengenyangkan, bisa menghidupi -red). Mungkin saat ini mereka berkelebihan atau berkecukupan akhirnya seperti itu. Kembali lagi, ini juga mencerminkan siapa yang didukung dan siapa yang diusung,” ujarnya dengan nada menyindir.
Trihono juga mengingatkan bahwa Pilkada adalah pesta rakyat yang seharusnya penuh kegembiraan dan bermakna, bukan diwarnai tindakan mubazir atau provokasi.
“Kompetisi Pilkada ini merupakan ajang bagaimana kita adu gagasan, adu program. Untuk supporter sama, kita adu kreativitas. Semoga mereka juga paham dengan arti demokrasi itu sendiri, pesta rakyat. Pesta tidak boleh menghambur-hamburkan,” katanya.
Ia berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi dan semua pihak dapat menjaga kedamaian Pilkada Surakarta.
“Ciptakan pemilu damai untuk kota Surakarta. Tapi kami yakin Teguh-Bambang insyaallah Gusti paling rida untuk memimpin kota Surakarta,” tutupnya.
Sementara itu, Teguh Prakosa sendiri memilih untuk tidak memberikan komentar terkait insiden ini, dengan alasan tidak mengetahui kejadian secara langsung. (lz)
Editor : Laila Zakiya