Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Asal Usul Bubur Samin di Solo, Takjil Berbuka Puasa Khas Ramadan yang Bertahan Sejak 1986

Niko auglandy • Rabu, 5 Maret 2025 | 02:45 WIB
ANTRE: Masjid Darussalam Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Solo memberikan bubur samin untuk merbuka warga.
ANTRE: Masjid Darussalam Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Solo memberikan bubur samin untuk merbuka warga.

RADARSOLO.COM - Bulan Ramadan selalu membawa cerita unik dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Masjid Darussalam Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Solo.

Salah satu tradisi khas yang telah berlangsung sejak tahun 1986 di masjid ini adalah pembagian bubur samin sebagai menu utama takjil.

Tradisi berbagi ini terus dilestarikan hingga kini, menjadi salah satu ikon Ramadan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

Ketua panitia Ramadan Masjid Darussalam, Muhammad Mayazin, mengungkapkan bahwa setiap harinya panitia menyiapkan sekira 1.300 porsi bubur samin untuk dibagikan kepada jamaah dan masyarakat umum.

"Dalam sehari, kita bikin minimal 45 kg beras, maksimal 50 kg. Dari jumlah itu, bisa jadi sekitar 1.300 porsi. Rata-rata, sekitar 1.100 porsi dibagikan ke masyarakat umum, sementara 200 porsi lainnya untuk jamaah yang berbuka di masjid," ujarnya.

Tradisi ini tak lepas dari sejarah panjang Masjid Darussalam dan para pendirinya. Bubur samin dipilih sebagai menu utama berbuka puasa karena adanya hubungan erat antara masjid ini dengan masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan.

Dahulu, para pendatang dari Banjar yang merantau ke Solo berkumpul dan beribadah di masjid ini, yang kala itu masih berupa langgar sederhana. Para pedagang perantauan yang belum memiliki tempat tinggal layak diundang untuk berbuka puasa bersama di masjid.

Uniknya, masing-masing warga yang sudah mapan membawa makanan sendiri, sehingga menu berbuka puasa pun beragam, mulai dari nasi kuning, lauk-pauk khas Banjar, hingga makanan lainnya.

Namun, karena variasi makanan yang terlalu beragam, akhirnya pada tahun 1986 diputuskan untuk menggunakan bubur samin sebagai menu utama takjil di Masjid Darussalam.

"Akhirnya, tahun 1986 bubur samin menjadi menu utama di Masjid Darussalam Jayengan Surakarta," jelas Muhammad Mayazin.

Bubur samin sendiri memiliki cita rasa khas dengan perpaduan rempah-rempah, santan, dan lemak sapi yang membuatnya gurih dan lezat. Bubur ini juga memiliki makna kebersamaan, karena dari satu panci besar bisa dibagikan kepada banyak orang.

Hingga kini, tradisi berbagi bubur samin di Masjid Darussalam Jayengan tetap lestari.

Tradisi kuliner ini menjadi bagian dari budaya Ramadan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mengikat tali persaudaraan antara warga setempat dan masyarakat umum yang berbuka di masjid.

Bagi yang berada di Solo saat Ramadan, menikmati bubur samin di Masjid Darussalam bisa menjadi pengalaman berbuka puasa yang istimewa dan penuh makna. (mg7/mg8/nik)

Editor : Niko auglandy
#puasa #bubur samin #Ramadan #solo #Masjid Darussalam