RADARSOLO.COM - Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan nuansa khas yang begitu dirindukan. Salah satunya adalah tradisi ngabuburit.
Di mana banyak orang menghabiskan waktu sore sebelum berbuka puasa dengan berburu takjil atau sekadar menikmati suasana kota yang semakin semarak.
Di Kota Solo, Balai Kota hingga kawasan Pasar Gede menjadi destinasi favorit bagi masyarakat untuk ngabuburit. Berkat hadirnya Ramadhan Light Festival yang kembali digelar tahun ini.
Festival ini semakin istimewa dengan kehadiran lampion berbentuk miniatur Masjid Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dibangun di depan lapangan Balai Kota Solo.
Lampion ini menjadi ikon utama festival dan segera menjadi spot instagramable yang menarik banyak pengunjung.
Keindahan cahaya lampion yang menyala di malam hari memberikan nuansa magis, menjadikan kawasan ini pilihan utama bagi warga Solo yang ingin mengabadikan momen Ramadan sambil menikmati waktu bersama keluarga dan sahabat.
Tak hanya menghadirkan pemandangan malam yang indah, Ramadhan Light Festival juga menghadirkan Bazar UMKM yang menawarkan berbagai produk kerajinan dan kuliner khas.
Bazar ini digelar selama bulan Ramadan dan Lebaran, memberikan kesempatan bagi para pelaku usaha kecil untuk tetap berjualan di momen spesial ini.
Para pengunjung pun dapat menikmati berbagai pilihan makanan dan minuman, menjadikannya sebagai surga kuliner bagi mereka yang ingin berburu takjil atau mencari menu berbuka yang lezat.
Bagi warga Solo dan sekitarnya, kawasan Pasar Gede telah menjadi salah satu pusat berburu takjil yang paling ramai.
Setidaknya ada 25 stand makanan yang berjejer di area ini, menjajakan beragam hidangan mulai dari Korean food, sate cumi, dimsum, es teh, pentol, hingga berbagai pilihan makanan dan minuman lainnya.
Kemeriahan semakin terasa dengan hadirnya para pedagang yang menjual aneka hidangan khas Ramadan, menciptakan suasana yang penuh semangat dan kebersamaan.
Menurut Ketua Paguyuban Palages Limanov, Harianto, setiap pedagang di area ini diwajibkan membayar Rp 15.000 per hari sebagai biaya sewa stand.
Selain itu, mereka juga harus mendapatkan izin dari ketua paguyuban sebelum berjualan.
Stand-stand takjil ini berjajar hingga kawasan Jambu, menciptakan suasana yang semakin hidup saat menjelang waktu berbuka puasa.
Menariknya, UMKM yang berjualan di kawasan ini dibagi menjadi dua shift operasional. Shift pertama dimulai pukul 04.00 hingga 17.00 WIB, sementara shift kedua berlangsung dari pukul 17.00 hingga 04.00.
Sistem ini memungkinkan para pedagang untuk tetap berjualan selama 24 jam penuh, memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin menikmati kuliner khas Ramadan, baik untuk berbuka puasa maupun sahur.
Salah satu pengunjung ngabuburit di lampion balai kota, Nita, mengaku sangat antusias mengunjungi Ramadhan Light Festival.
Baginya, festival ini bukan hanya tempat berburu takjil, tetapi juga kesempatan untuk menikmati suasana Ramadan yang penuh semangat.
"Lokasi ini ramai dan banyak pilihan makanan. Jadi bisa sekalian jajan takjil. Banyak jenis makanan dan minuman menarik untuk dibeli. Saya tahu event ini karena sering lewat saat mau pulang ke rumah," ujarnya dengan penuh semangat.
Pemerintah Kota Solo memang secara rutin menyelenggarakan festival ini sebagai bagian dari tradisi tahunan.
Ramadhan Light Festival dan bazar UMKM telah menjadi bagian dari identitas Ramadan di Solo, menggabungkan semangat berbagi, kebersamaan, dan dukungan bagi para pelaku usaha kecil.
Tak hanya sekadar menjadi tempat ngabuburit, keberadaan festival ini juga membantu para UMKM untuk tetap menjalankan usaha mereka di bulan suci, sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mendapatkan makanan dan minuman untuk berbuka puasa.
Bagi siapa saja yang ingin merasakan suasana Ramadan yang lebih meriah, Ramadhan Light Festival di Balai Kota Solo hingga Pasar Gede menjadi pilihan yang sangat menarik.
Berburu takjil, menikmati gemerlap lampion, hingga mencicipi berbagai kuliner khas. Semua bisa dinikmati dalam satu tempat.
Ramadan memang selalu membawa kebahagiaan, dan Solo kembali membuktikan bahwa suasana Ramadan bisa lebih istimewa dengan sentuhan budaya dan kreativitas yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat. (Mg7/mg8/nik)
Editor : Niko auglandy