Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Dosen UNS Solo Jalani Ramadan di Korea Selatan: Berpuasa 13 Jam dengan Suhu Minus, Butuh Perjuangan untuk Salat Tarawih

Mannisa Elfira • Jumat, 7 Maret 2025 | 03:40 WIB
Monika Sri Yuliarti tetap menikmati ibadah puasa di tengah musim dingin di Korea Selatan. (ist)
Monika Sri Yuliarti tetap menikmati ibadah puasa di tengah musim dingin di Korea Selatan. (ist)

RADARSOLO.COM - Ramadan di Korea Selatan membawa pengalaman yang unik bagi Monika Sri Yuliarti, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret yang kini menjalani tahun keempat puasanya di Negeri Ginseng. Namun, kali ini butuh perjuangan.

Berbeda engan Indonesia yang berpuasa dalam cuaca tropis, Monika harus menyesuaikan diri dengan hawa dingin musim semi yang masih terasa seperti sisa-sisa musim dingin.

"Biasanya awal Maret itu sudah masuk musim semi. Tapi sekarang, tiga hari kemarin masih turun salju. Bisa jadi ini efek pemanasan global," ujar Monika saat dihubungi Radar Solo, Rabu (5/3).

Suhu di Korea Selatan masih berada di kisaran minus 3 derajat celsius, membuat peralihan dari musim dingin ke musim semi terasa lebih lambat. Meskipun udara dingin membantu mengurangi rasa haus saat puasa, tantangan lain muncul yaitu banyak orang terkena flu karena perubahan cuaca yang ekstrem.

"Di Indonesia tantangannya panas, di sini justru kebalikan—terlalu dingin. Banyak yang terkena flu. Tapi puasa 13 jam di sini terasa lebih mudah karena cuaca adem," katanya.

Durasi puasa di Korea Selatan bergantung pada musim. Tahun ini, Monika menjalani puasa selama 13 jam, dari Subuh sekira pukul 05.30 hingga Magrib pukul 18.30. Seiring berjalannya Ramadan, durasi puasa akan bertambah hingga 14 jam di akhir bulan.

Suasana Ramadan di Korea Selatan tentu berbeda jauh dengan Indonesia. Tidak ada suara azan di jalan, tidak ada hiruk-pikuk ngabuburit, dan suasana Ramadan lebih sepi. Namun, Monika tetap bisa menjalankan ibadah dengan baik.

"Di sini, suasana Ramadan memang tidak semeriah di Indonesia. Tapi alhamdulillah, masih bisa menjalankan ibadah wajib. Ada musala di dekat rumah yang bisa didatangi, meskipun jaraknya cukup jauh," katanya.

Monika tinggal di Sinchon, Seodaemun-gu, Seoul, dan untuk salat Tarawih, dia harus berjalan kaki selama 25 menit ke musala terdekat.

"Biasanya saya jalan kaki bareng suami kalau dia tidak kerja sampai malam. Kalau dia pulang kerja jam 10 malam, saya berangkat bareng teman-teman mahasiswa Indonesia," jelasnya.

Meskipun jauh dari kampung halaman, Monika tetap bisa menikmati kebersamaan Ramadan dengan komunitas muslim di Korea Selatan. Setiap Sabtu, musala di dekat rumahnya mengadakan buka puasa bersama, dengan menu khas Timur Tengah seperti nasi kebuli dan kurma.

"Pengurus musala di sini kebanyakan orang Timur Tengah. Jadi kalau buka puasa, kita merasakan makanan khas mereka," tuturnya.

Selain itu, ada komunitas muslim Indonesia bernama Rumaisa (Rumah Muslimah Indonesia di Korea Selatan) yang rutin mendata mahasiswa untuk menerima takjil.

"Mereka menyediakan takjil khas Indonesia. Tahun lalu ada teh kotak Sosro, tahu isi, martabak, bahkan kue lumpur dan lemper. Lumayan buat obati rindu kampung halaman," ujarnya.

Selain menikmati takjil, Monika juga ikut berdonasi untuk program ini. Setiap paket takjil dihargai 8.000 KRW atau sekitar Rp 85 ribu, yang bisa disumbangkan oleh siapa saja yang ingin berbagi dengan sesama muslim di perantauan.

"Meski jauh dari Indonesia, kami tetap bisa merasakan semangat kebersamaan Ramadan. Ada banyak cara untuk tetap berbagi dan menikmati Ramadan meski di negeri orang," ujarnya. (nis/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#puasa #ngabuburit #Ramadan #korea selatan #suhu