Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Masjid Laweyan: Berawal dari Pura Hindu, Akhirnya Jadi Masjid Tertua di Kota Solo

Niko auglandy • Sabtu, 8 Maret 2025 | 08:31 WIB
MASIH KUKUH: Masjid Laweyan jadi salah satu masjid tertua di Kota Solo.
MASIH KUKUH: Masjid Laweyan jadi salah satu masjid tertua di Kota Solo.

RADARSOLO.COM — Masjid Laweyan, salah satu masjid tertua di Kota Solo.

Berdiri sejak 1546, jauh sebelum berdirinya Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Masjid ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang Islam di tanah Jawa, khususnya di Kerajaan Pajang.

Berlokasi di kawasan Laweyan, Solo, masjid ini memiliki sejarah panjang yang tak lepas dari perjuangan Kyai Ageng Henis dalam menyebarkan Islam.

Di kompleks Masjid Laweyan, terdapat makam beliau yang merupakan tokoh syiar Islam dan juga kakek dari Paku Buwono II, penguasa Mataram Islam sebelum berpindah ke Keraton Surakarta.

Uniknya, sebelum menjadi masjid seperti sekarang, bangunan ini dulunya adalah sebuah pura yang digunakan untuk pemujaan umat Hindu.

Kala itu, wilayah Belukan,tempat Masjid Laweyan berdiri, dipimpin oleh Ki Ageng Beluk, seorang pemuka Hindu.

Namun, setelah kedatangan Kyai Ageng Henis, ajaran Islam mulai berkembang di daerah tersebut. Ki Ageng Beluk yang tertarik dengan ajaran Islam akhirnya memeluk Islam dan mewakafkan pura yang dimilikinya untuk dijadikan tempat ibadah umat Muslim.

Seiring berjalannya waktu, bangunan ini mengalami beberapa perubahan. Dari sebuah pura, berubah menjadi sanggar, kemudian langgar, hingga akhirnya menjadi masjid yang berdiri kukuh, hingga saat ini dan masih aktif digunakan untuk berbagai aktivitas keagamaan.

Di bulan suci Ramadan, Masjid Laweyan menjadi pusat kegiatan keagamaan yang semakin hidup. Selain menjadi tempat salat berjamaah, masjid ini juga menyediakan hidangan berbuka bagi jamaah dan masyarakat sekitar.

Untuk menu berbuka puasa, mayoritas berasal dari donatur dan jamaah.

Humas Masjid Laweyan, Nugroho, menjelaskan bahwa pengolahan makanan dari pihak panitia masjid hanya dilakukan pada tiga hari tertentu, yakni tanggal 5, 16, dan 21 Ramadan.

Selebihnya, menu berbuka berasal dari donatur, salah satunya dari sebuah brand minuman yang berkontribusi dalam penyediaan hidangan berbuka tahun ini.

"Tahun 2023 lalu, kami sempat menyajikan Bubur Laweyan sebagai menu khas berbuka puasa. Namun, tahun ini kami terkendala dalam hal tim yang mengolah makanan tersebut," ungkap Nugroho.

Selain menyediakan makanan berbuka, Masjid Laweyan juga menggelar berbagai kegiatan keislaman selama bulan Ramadan, salah satunya adalah Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) yang berlangsung sejak 1 hingga 20 Ramadan.

Kegiatan mabit ini melibatkan anak-anak TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) dengan jadwal pelaksanaan dari Senin hingga Jumat, sementara pada Sabtu dan Minggu diliburkan.

Antusiasme jamaah untuk mengikuti kegiatan Ramadan di Masjid Laweyan terus meningkat setiap tahunnya. Pada 22-23 Maret 2025, masjid ini akan mengadakan pesantren kilat yang terbuka untuk umum.

Dengan biaya pendaftaran yang sangat terjangkau, yakni hanya Rp 5.000, peserta bisa mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, termasuk buka bersama dan program sosial yang bermanfaat.

Untuk kelancaran seluruh kegiatan Ramadan, Masjid Laweyan juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin bergabung sebagai panitia Ramadan, dengan berbagai ketentuan yang telah ditetapkan oleh pihak pengelola masjid.

Saat ini, Masjid Laweyan telah diakui sebagai salah satu cagar budaya di Kota Solo, mengingat usianya yang hampir lima abad dan nilai sejarah yang dikandungnya.

Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol perjalanan Islam di Solo dan saksi dari berbagai peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di wilayah ini.

Dengan tetap mempertahankan tradisi dan kegiatan keagamaan yang khas, Masjid Laweyan terus menjadi tempat yang dirindukan masyarakat Solo dalam menjalankan ibadah, khususnya di bulan Ramadan.

Bagi warga sekitar maupun wisatawan yang ingin merasakan nuansa spiritual yang berbeda, beribadah dan berbuka puasa di Masjid Laweyan bisa menjadi pengalaman yang tak terlupakan. (mg7/mg8/nik)

Penulis: Siti Fatimah
Fotografer :
Nazla Khairunnisa

Editor : Niko auglandy
#islam #pajang #kyai ageng henis #masjid laweyan