Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Lantunan Indah Tadarus Braille Menggema di Panti Asuhan Disabilitas Sensorik Bhakti Solo

Mannisa Elfira • Selasa, 11 Maret 2025 | 02:10 WIB
MERABA: Para penyandang disabilitas melantunkan ayat suci Alquran di Masjid Nurul Huda, Panti Sosial Disabilitas Sensorik Bhakti,Senin (10/3) siang.  
MERABA: Para penyandang disabilitas melantunkan ayat suci Alquran di Masjid Nurul Huda, Panti Sosial Disabilitas Sensorik Bhakti,Senin (10/3) siang.  

RADARSOLO.COM Indahnya lantunan ayat suci Alquran menggema di Masjid Nurul Huda, Panti Sosial Disabilitas Sensorik Bhakti, Senin (10/3/2025) siang.

Selepas salat Duhur, para penyandang tunanetra sibuk menelusuri Alquran Braille dengan jari-jari mereka.

Ini menandakan bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang bagi umat islam untuk beribadah di bulan suci Ramadan. Dengan hati yang khusyuk, mereka tekun meraba-raba huruf timbul di Alquran untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tadarus Alquran Braille ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh warga Panti Sosial Disabilitas Sensorik Bhakti selama bulan puasa.

"Tadarus ini sejatinya setiap hari di luar Ramadan dan selama Ramadan. Kalau di bulan Ramadan, biasanya dilakukan setelah salat Duhur, kemudian nanti ada lagi setelah salat Tarawih anak-anak sendiri. Lalu sebelum buka itu juga ada pengajian," ujar Pengajar atau Pembina Panti Sosial Disabilitas Sensorik Bhakti Candrasa Sartono.

Dalam hal ini, sesama warga saling membantu satu sama lain. Mengingat, pembelajaran braille ini sifatnya berjenjang. Artinya, tidak semua lancar menjalankan sistem tulisan sentuh ini.

"Berjenjang ya, sesuai latar belakang pendidikan juga. Kalau kami mengajar yang betul-betul dari nol, tentunya agak lama. Harus telaten, sabar, karena memulai huruf abjad latin sampai dengan arab dibutuhkan waktu, kepekaan," lanjut Sartono.

Mengajar braille bukan tanpa tantangan. Bagi Sartono, tangangannya adalah bagaimana pengajar memiliki kejelian dalam memberikan berbagai metode, terutama dalam pembelajaran.

"Kalau menghafal kan mudah. Misal titik satu itu A, titik satu dua itu B. Nah, yang sulit itu memberikan bagaimana daya raba itu punya kepekaan. Ini butuh waktu dan tidak cukup satu-dua hingga enam bulan," paparnya.

Sartono mengungkapkan, para warga di panti ini sambil dibimbing dalam perabaan braille. Di sini juga ada kelas khusus yang dibagi menjadi beberapa sesi, seperti bagi pemula, lanjut, dan lain sebagainya. "Jadi sesuai kemampuan," tambahnya.

Sementara itu, ada sejumlah kegiatan lainnya selain tadarus di bulan Ramadan. Sartono menyebutkan ada semacam kuliah atau kajian per materi.

"Setelah Duhur itu minggu pertama khusus aqidah, lalu minggu kedua fiqih, minggu ketiga akhlak, minggu keempat Alquran dan hadis, minggu kelima kalau ada biasanya saya seling dengan sejarah," sebut Sartono.

Agenda selanjutnya adalah kegiatan belajar mengajar biasa. Tergantung kelompoknya, ada yang belajar penyembuhan, belajar kesenian, dan lain sebagainya.

"Nanti juga ada doorprize. Itu dari anak-anak ke anak-anak sendiri," lanjut Sartono.

Salah satu peserta tadarus Erlina, 24, mengatakan kadang dia ikut tadarus bersama di masjid, kadang tadarus sendiri. Ini merupakan tahun ketiganya mempelajari braille.

"Sebenarnya dulu pernah sekolah, terus iqra. Terus lanjutnya di sini belajarnya. Kadang hurufnya saya suka lupa karena huruf biasa kadang beda dengan huruf hijaiyah," tuturnya. (nis/nik)

 

 

Editor : Niko auglandy
#Alquran #tunanetra #masjid nurul huda