Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Bangunan Masjid dan Gereja di Kota Solo Bersebelahan, Jadi Simbol Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama Yang Harmonis di Kota Bengawan

Niko auglandy • Selasa, 11 Maret 2025 | 03:25 WIB

 

Masjid Al-Hikmah yang berada di Jalan Gatot Subroto, Kota Solo.
Masjid Al-Hikmah yang berada di Jalan Gatot Subroto, Kota Solo.
 

RADARSOLO.COM –Di Kota Solo terdapat dua tempat ibadah beda agama yang terletak bersebelahan persis. Kedua tempat ibadah tersebut yakni Masjid Al-Hikmah dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan.

Dua bangunan ini jadi salah satu simbol toleransi antar umat beragama terjadi di Kota Solo. Lokasinya berada di Jalan Gatot Subroto.

GKJ Joyodiningratan dibangun pada masa penjajahan Belanda, yakni pada 1939. Sementara Masjid Al-Hikmah dibangun setelah kemerdekaan, yakni pada 1947.

Kedua rumah ibadah ini menjalani kegiatan keagamaan dengan beriringan dan bergantian.

Sebelum menjadi sebuah masjid, Masjid Al-Hikmah dulunya hanya sebuah langgar. Berdiri diatas tanah wakaf hj. Jaini. Seiring berjalannya waktu pada 1980 langgar kemudian direnovasi menjadi sebuah masjid.

Masjid ini berdiri tepat berdampingan dengan sebuah gereja. Walaupun mereka saling berdampingan, tetapi toleransi antar keduanya terikat kuat.

"Ga pernah ada perselisihan, karena saya sendiri asli sini, kecil disini. Takmirnya juga di sini, saya juga sudah biasa main di gereja itu" ungkap Fathurrohim atau yang akrab disapa Abah Oim, selaku salah seorang pengurus Masjid Al-Hikmah.

 

Tugu lilin perdamaian di Masjid Al-Hikmah
Tugu lilin perdamaian di Masjid Al-Hikmah

Salah satu bukti toleransi yang masih terjaga sampai saat ini adalah keberadaan sebuah tugu lilin perdamaian yang sudah dibangun sejak 1940 an.

Bukti toleransi kuat antara keduanya juga ditunjukan ketika mereka akan melaksanakan hari raya diantara keduanya.

Abah Oim mengungkapkan, ketika salah satu akan melaksanakan hari raya, maka satu lainnya akan saling menghargai.

Caranya dengan memberi tempat jika memang dibutuhkan lahan yang lebih luas. Contohnya saat Idul Adha maka mereka akan memberikan sebagian lahannya untuk tempat penitipan hewan kurban.

Begitu pula saat Natal, pihak masjid akan menyesuaikan jadwal mengaji agar tidak mengganggu kegiatan gereja.

Kegiatan saat Ramadan di masjid Al-Hikmah juga dijalani berbagai agenda. Seperti tadarus Alquran, tarawih, dan buka bersama. Tradisi buka bersama menggunakan piringan juga masih dipertahankan sampai saat ini.

“Di sini tarawihnya tujuh rakaat. Meskipun ada perbedaan, tapi harusnya sama saja. Masjid ini netral, bisa untuk NU, bisa juga untuk Muhammadiyah,” ungkapnya.

Sayangnya ada sedikit kendala dalam hal regenerasi pengurus masjid.

"Di sini pengurusnya sudah tua-tua, remaja sekarang apalagi untuk pengurusan muda-mudi juga susah. Orangnya sudah kerja dan nikah, pasti punya kesibukan sendiri-sendiri," tambahnya. (mg7/mg8/nik)

Editor : Niko auglandy
#masjid Al Hikmah #Tarawih #buka puasa