RADARSOLO.COM - Langgar Trayeman di Kauman, Kota Solo, merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki nilai penting dalam perkembangan Islam di Kota Solo.
Bangunan ini diyakini telah berdiri sejak ratusan tahun lalu, bahkan disebut-sebut sudah ada sebelum Kota Solo didirikan secara resmi.
Hal ini menjadikan Langgar Trayeman sebagai bukti otentik penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.
Langgar ini dipercaya didirikan oleh Mbah Trayem, seorang mudin atau petugas keagamaan di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Baca Juga: Indahnya Toleransi, Jemaat Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Sukoharjo Bagikan Takjil di Masjid Agung
Beliau berperan penting dalam menyebarkan ajaran Islam di kawasan Kauman dan sekitarnya.
Tak heran jika keberadaan langgar ini menjadi saksi sejarah perkembangan agama Islam di Kota Bengawan.
Meski sempat mengalami renovasi, Langgar Trayeman tetap mempertahankan keaslian bangunannya.
Empat tiang penyangga dari kayu jati yang menjadi struktur utama masih berdiri kokoh hingga kini, menunjukkan kekuatan arsitektur masa lampau yang sarat filosofi.
Pada 2014, Langgar Trayeman resmi ditetapkan sebagai cagar budaya.
Keunikan bangunan ini terlihat dari keberadaan bedug dan kentongan yang mengingatkan pada ciri khas masjid tradisional Nusantara.
Tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, langgar ini juga terus mempertahankan tradisi keagamaan, terutama di bulan Ramadan.
Kegiatan seperti buka puasa bersama, salat tarawih berjamaah, kultum pagi, hingga tadarus Al-Qur’an masih rutin diselenggarakan oleh jamaah setempat.
“Untuk Langgar Trayeman Kauman itu, tiap bulan Ramadan rutinnya buka bersama selama satu bulan penuh, mengadakan salat tarawih berjamaah, kultum pagi. Untuk kegiatan lain, alhamdulillah selama Ramadan dari buka bersama, tadarus juga kita lakukan bersama di langgar, lalu dilanjutkan dengan kultum pagi,” ungkap Budi Altrayemani, selaku takmir langgar.
Langgar Trayeman bukan hanya menjadi tempat ibadah semata, melainkan juga simbol kebersamaan, warisan budaya, dan pelestarian nilai-nilai keagamaan yang terus dijaga oleh masyarakat Kauman hingga kini. (mg7/mg8/nik)
Penulis : Nazla Khairunnisa
Fotografer : Siti Fatimah