Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Ini Makna Mendalam dari Budaya Silaturahmi Atau Halalbihalal di Momen Lebaran

Mannisa Elfira • Minggu, 23 Maret 2025 | 23:11 WIB
Gibran Rakabuming Raka saat menggelar open house Lebaran di loji Gandrung saat masih jadi wali kota Solo, di momen Lebaran 2024.
Gibran Rakabuming Raka saat menggelar open house Lebaran di loji Gandrung saat masih jadi wali kota Solo, di momen Lebaran 2024.

RADARSOLO.COM - Halalbihalal atau silaturahmi merupakan salah satu budaya masyarakat Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri.

Biasanya, mereka mampir rumah ke rumah untuk meminta maaf secara langsung kepada sesama.

Secara umum, silaturahmi merupakan budaya masyarakat Indonesia yang sangat baik. Dekan Fakultas Adab dan Bahasa (FAB) Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta Imam Makruf menyebutkan tidak ada nilai keburukan dalam silaturahmi. Kegiatan ini pun memang menjadi tuntunan bahkan dianjurkan dalam Islam.

“Bentuk silaturahmi berkaitan dengan budaya. Ada yang sifatnya ketemu di satu tempat bersama-sama atau janjian dalam satu kegiatan semacam seremonial. Ada juga yang saling mengunjungi dari rumah ke rumah. Jadi tidak ada yang salah akan budaya ini, justru ini menyempurnakan amaliah Ramadan kita,” jelas Imam kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baca Juga: Suasana Jelang Lebaran, Aktivitas Warga dan Kendaraan di Wonogiri Meningkat

Setelah sebulan penuh, lanjut Imam, puasa dapat disempurnakan dengan saling meminta maaf ke sesama. Inilah kesempatan yang baik dan tepat untuk saling meluruhkan dosa dan kesalahan terhadap manusia lainnya.

"Kalau urusan dosa dan salah kepada Allah SWT, selama Ramadan sudah bersih. Mengingat janji Allah, 10 hari pertama, kedua, ketiga pada akhirnya menghapuskan semua dosa-dosa dan membebaskan dari api neraka," lanjutnya.

Itulah hubungan hablum minallah atau hubungan dengan Allah. Namun jangan lupakan hablum minannas atau hubungan dengan sesama manusia. Jikalau ada dosa terhadap sesama, manusia tetap harus meminta maaf kepada yang bersangkutan.

"Maka budaya silaturahmi ini justru membuat orang yang tadinya mungkin ingin meminta maaf secara langsung itu berat, tapi karena ada kegiatan silaturahmi, halal bihalal maka orang menjadi mudah untuk meminta maaf," sambung Imam.

Dengan adanya momentum di hari kebahagiaan ini, Imam menjelaskan meminta maaf menjadi terasa ringan, mudah dilakukan, forumnya tersedia. Akhirnya, manusia sama-sama ridho untuk saling memaafkan.

"Ini budaya yang sangat baik untuk bisa menyatukan umat islam itu, ini prinsip. Yang terpenting dari hakikat silaturahmi ya saling memaafkan," sebutnya.

Silaturahmi sejatinya bisa dilakukan kapan saja. Bisa di luar atau di dalam Ramadan, terutama bulan Syawal.

"Itulah yang kemudian manusia menjadi sadar mumpung hari raya, semua orang dalam keadaan bergembira, semua orang igin merayakan kemenangan, maka diisi dengan saling meminta maaf," paparnya.

Silaturahmi bisa juga dimaknai sebagai sambungnya hati. Jika bertemu fisik tapi hatinya tidak sambung, jabatan tangannya hanya formalitas. Ini belum bisa dikatakan silaturahmi.

"Yang lebih utama, jika ada orang yang dijauhi oleh orang lain tetapi dia berusaha untuk mendekati, berusaha untuk menyambung lagi, hal itu luar biasa. Itulah hakikat silaturahim yang paling utama. Jadi menyambung terhadap apa yang orang lain putuskan," sambungnya. (nis/nik)

Editor : Niko auglandy
#silaturahmi #Ramadan #halalbihalal