RADARSOLO.COM- Bulan Ramadhan selalu identik dengan momen berbuka puasa.
Di Indonesia, istilah takjil identik dengan aneka makanan dan minuman manis yang disantap saat azan Magrib berkumandang.
Namun, tidak banyak yang tahu bahwa kata takjil ternyata memiliki sejarah dan makna yang lebih dalam daripada sekadar jajanan berbuka.
Secara etimologis, kata takjil berasal dari bahasa Arab ta’jīl (تعجيل) yang berarti menyegerakan.
Dalam konteks ibadah puasa, takjil merujuk pada anjuran untuk menyegerakan berbuka puasa ketika waktu Magrib telah tiba.
Makna ini sejalan dengan ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk tidak menunda berbuka.
Dalam hadis Nabi Muhammad SAW riwayat HR. Muslim dan Bukhori disebutkan bahwa menyegerakan berbuka termasuk bagian dari kebaikan selama bulan Ramadhan.
Dari sinilah istilah takjil awalnya digunakan. Bukan sebagai nama makanan, melainkan sebagai tindakan.
Pergeseran Makna Takjil di Indonesia
Seiring waktu, penggunaan istilah takjil di Indonesia mengalami pergeseran makna.
Jika secara harfiah takjil berarti menyegerakan berbuka, dalam praktik sehari-hari masyarakat justru menggunakan kata ini untuk menyebut makanan atau minuman pembuka puasa.
Fenomena ini dipengaruhi oleh budaya lokal yang kaya akan tradisi kuliner.
Baca Juga: Ramadhan 2026 di Indonesia: 12 Keunikan Tradisi Puasa yang Selalu Dirindukan Setiap Bulan Suci
Takjil kemudian identik dengan hidangan ringan seperti kolak, es buah, kurma, hingga gorengan, yang dikonsumsi sebelum menyantap makanan utama saat berbuka.
Di Indonesia, takjil tidak hanya dimaknai sebagai hidangan berbuka, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi sosial.
Berbagi takjil di pinggir jalan, masjid, hingga lingkungan permukiman menjadi pemandangan khas setiap Ramadhan.
Tradisi ini mencerminkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Meski secara istilah takjil berarti menyegerakan berbuka.
Dalam praktiknya takjil menjadi simbol kebaikan, sedekah, dan solidaritas antarwarga selama bulan suci.
Mengapa Takjil Selalu Identik dengan yang Manis?
Pemilihan makanan manis sebagai takjil juga memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.
Rasulullah SAW dianjurkan untuk berbuka puasa dengan sesuatu yang manis dan ringan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:
“Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa butir ruthab (kurma basah) sebelum salat. Jika tidak ada ruthab, maka dengan tamr (kurma kering). Jika tidak ada juga, beliau berbuka dengan beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Kurma memiliki rasa manis alami dan kandungan gula yang mudah diserap tubuh, sehingga dapat segera mengembalikan energi setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Air juga dianjurkan karena membantu menghidrasi tubuh sebelum mengonsumsi makanan lainnya.
Kebiasaan berbuka dengan yang manis ini kemudian berkembang di tengah masyarakat Indonesia dan diadaptasi dengan bahan-bahan lokal.
Dari sinilah muncul beragam variasi takjil khas Nusantara. Seperti kolak, es buah, candil, hingga aneka minuman manis yang mudah ditemui saat Ramadhan. (agna)
Editor : Tri wahyu Cahyono