RADARSOLO.COM - Di balik keriuhan target "puasa penuh" bagi anak, terselip sebuah refleksi mendalam bagi para orang tua. Pengamat pendidikan anak usia dini Elinda Rizkasari mengingatkan bahwa indikator keberhasilan Ramadan bagi anak bukan sekadar ketahanan fisik menahan lapar, melainkan sejauh mana orang tua mampu melakukan "puasa emosi" dan menahan ego dalam mendidik.
Menurut Elinda, perilaku rewel atau sensitif pada anak menjelang siang hari merupakan momen pendidikan yang krusial. Di titik inilah anak sebenarnya sedang belajar regulasi diri. Namun, kemampuan tersebut tidak tumbuh melalui instruksi verbal, melainkan melalui proses co-regulation—di mana anak menyerap ketenangan dari figur lekatnya.
"Anak tidak hanya belajar sabar dari ceramah, tetapi dari kesabaran yang ia saksikan langsung di rumah," ujar Elinda.
Ia menekankan pentingnya konsep emotion coaching, yakni saat orang tua membantu anak mengenali rasa lapar dan lelahnya sebagai emosi yang valid, alih-alih meremehkannya.
Elinda mengatakan, atmosfer emosional di rumah menjadi faktor penentu pengalaman puasa anak. Jika didampingi dengan empati, puasa dimaknai sebagai proses belajar. Sebaliknya, ancaman dan kemarahan hanya akan menyisakan rasa takut dan keterpaksaan.
Ramadan sering kali memicu konflik karena tiga perubahan sekaligus: fisiologi (lapar), jadwal (kurang tidur), dan ekspektasi tinggi. Di keluarga urban, tantangan bertambah dengan adanya distraksi digital. Waktu menjelang berbuka yang seharusnya menjadi ruang dialog hangat, sering kali tersita oleh layar gawai.
"Jika rumah sunyi dari dialog, puasa hanya akan menjadi rutinitas biologis, bukan latihan karakter," tegas Elinda.
Sudah saatnya orang tua menggeser pertanyaan dari "Apakah anak kuat puasa?" menjadi "Apakah kita cukup kuat menjadi teladan di rumah?". Keberhasilan anak sebaiknya diukur dari kejujuran usahanya, bukan sekadar jumlah hari yang berhasil dilalui tanpa makan.
Orang tua pun perlu menyadari bahwa Ramadan adalah momentum latihan regulasi diri bagi mereka. Menahan komentar menyakitkan dan menghindari perbandingan yang merendahkan adalah esensi dari puasa yang sesungguhnya. Anak mungkin lupa berapa hari ia puasa penuh di usia tujuh tahun, namun ia akan selalu mengingat apakah rumahnya saat itu adalah tempat yang penuh dukungan atau penuh tekanan. (alf/bun)
Editor : Kabun Triyatno