RADARSOLO.COM – Wujud toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Kota Solo kembali terlihat nyata. Ini kembali terpancar dari agenda yang ada di GKJ Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah di Jalan Gatot Subroto Kratonan Serengan Solo.
Harmonisasi hubungan antara dua bangunan ibadah tersebut berjalan hangat dan penuh saling pengertian.
Kedua rumah ibadah yang berdiri berjejer itu kembali menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi momentum keagamaan yang berbarengan.
Kali ini, momen tersebut terjadi saat menyambut 1 Ramadan 1447 H. Pada Rabu (18/2/2026), pihak gereja akan melaksanakan ibadah misa Rabu Abu, sementara pihak masjid menggelar salat tarawih perdana. Dua agenda sakral itu berlangsung di waktu yang hampir bersamaan.
Fenomena tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana keberagaman dapat berjalan beriringan tanpa gesekan. Tidak ada kegaduhan ataupun polemik yang muncul di tengah masyarakat. Sebaliknya, situasi ini justru memperlihatkan kedewasaan dan saling menghormati antarumat beragama.
Pendeta GKJ Joyodiningratan Beritha Tri Setya Nugroho menegaskan, tidak ada komunikasi formal yang dilakukan secara khusus terkait berbarengannya dua momen ibadah tersebut.
Menurutnya, kedua belah pihak sudah saling memahami karena budaya toleransi telah terbangun sejak lama. Hubungan baik yang terjalin puluhan tahun menjadi fondasi kuat dalam menjaga keharmonisan.
“Untuk momen ibadah Rabu Abu yang bertepatan dengan salat tarawih perdana tahun ini, saya pikir ini adalah momen yang baik untuk keragaman dan persaudaraan, baik dalam lingkup agama Kristen maupun agama Muslim,” ujarnya.
Dia menambahkan, komunikasi informal sudah menjadi bagian dari kebiasaan yang berjalan secara alami. Kedua pihak sudah memahami alur dan jadwal kegiatan masing-masing tanpa perlu koordinasi resmi yang berlebihan. Kebersamaan yang terbangun selama bertahun-tahun membuat semuanya berjalan selaras.
Beritha juga menjelaskan, secara teknis tidak ada waktu ibadah yang saling berbenturan.
Ibadah Rabu Abu dijadwalkan mulai pukul 18.00 dengan estimasi durasi sekira satu jam. Dengan demikian, sekira pukul 19.00 ibadah telah selesai.
Sementara itu, salat tarawih perdana dimulai sekira pukul 19.30. Rentang waktu tersebut dinilai cukup aman dan tidak saling mengganggu aktivitas masing-masing. Penataan waktu itu turut menjadi faktor pendukung terciptanya suasana kondusif.
Lebih jauh, Beritha memaknai momentum ini sebagai titik temu spiritual antarumat beragama.
Dia menyebut umat Kristen juga memasuki masa puasa dan pertobatan selama 40 hari menjelang Paskah. Nilai-nilai pengendalian diri dan refleksi menjadi esensi yang sama-sama dijalankan.
“Pada Rabu Abu, di dalam Kristen juga ada masa puasa, masa pertobatan, masa pantang melakukan hal-hal tertentu atau yang tidak baik selama 40 hari menjelang Paskah,” jelasnya.
Menurutnya, semangat yang dijalankan umat Kristen dan Muslim pada dasarnya memiliki kesamaan nilai. Keduanya sama-sama menjalankan perintah Tuhan untuk menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan memperbaiki kualitas spiritual. Momentum ini, kata dia, menjadi ruang refleksi bersama dalam bingkai keberagaman.
Di sisi lain, pengurus Masjid Al-Hikmah juga menyampaikan komitmennya untuk terus menjaga suasana harmonis. Mereka memastikan pelaksanaan salat tarawih tetap memperhatikan kenyamanan lingkungan sekitar. Prinsip saling menghormati menjadi pedoman utama dalam setiap kegiatan keagamaan.
Pihak masjid menegaskan bahwa hubungan baik dengan GKJ Joyodiningratan bukan hal baru.
Sejak lama, komunikasi antar pengurus terjalin secara cair dan penuh kekeluargaan. Momentum berbarengannya Rabu Abu dan tarawih perdana ini justru semakin menegaskan bahwa Solo tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh umat beragama. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy