RADARSOLO.COM - Menjalankan ibadah puasa Ramadhan bagi penderita gangguan ginjal dan lambung memerlukan perhatian medis yang ekstra. Menjawab keresahan tersebut, dua pakar spesialis, dr. Mutiara Rizki Haryati, Sp.PD, K-GH dan dr. Andi Ratna Maharani, Sp.PD, membedah strategi aman berpuasa berdasarkan stadium penyakit dan gejala klinis pasien.
Pakar Ginjal dan Hipertensi dr. Mutiara menekankan bahwa izin berpuasa bagi pasien ginjal sangat bergantung pada klasifikasi stadiumnya. Hal ini dikarenakan setiap stadium memiliki kemampuan pembuangan sampah tubuh yang berbeda.
Pasien tahap stadium 1 dan 2 diperbolehkan berpuasa karena fungsi pembuangan masih optimal. Sedangkan yang memiliki stadium 3a dan 3b sebaiknya tidak berpuasa. Namun masih memungkinkan dengan pengawasan ketat.
“Untuk stadium 4 dan 5 tidak direkomendasikan karena puasa dapat mempercepat kebutuhan pasien untuk menjalani cuci darah (dialisis),” ujar dr Mutiara.
Sedangkan khusus pasien transplantasi disarankan baru memulai puasa minimal satu tahun pascaoperasi. "Bagi pasien yang memutuskan berpuasa, menjaga hidrasi sangatlah krusial. Selain itu, hindari makanan tinggi fosfat dan kalium untuk mencegah beban kerja ginjal berlebih," jelas dr. Mutiara.
Di sisi lain, spesialis penyakit dalam dr. Andi Ratna memaparkan bahwa penderita maag atau dispepsia justru dapat memperbaiki kondisi lambung melalui puasa, asalkan mampu mengelola pola hidup.
Ia menyoroti bahwa kambuhnya maag sering dipicu oleh konsumsi makanan pedas, asam, berlemak, kafein, serta kebiasaan langsung berbaring setelah makan.
Namun, dr. Andi memberikan peringatan keras mengenai kondisi "lampu merah" yang mengharuskan pasien segera membatalkan puasa demi menghindari komplikasi serius. Nyeri perut hebat secara mendadak dan muntah terus-menerus atau muntah darah.
Kemudian mengalami nyeri kepala hebat disertai keringat dingin hingga pingsan, serta buang air besar (BAB) berwarna hitam.
"Penderita maag harus peka terhadap sinyal tubuh. Jika gejala-gejala darurat tersebut muncul, jangan memaksakan diri karena risiko komplikasi bisa jauh lebih berbahaya," tegas dr. Andi. (bun)
Editor : Kabun Triyatno