RADARSOLO.COM - Datangnya bulan suci Ramadan menjadi momen paling ditunggu bagi umat muslim. Inilah momentum yang tepat untuk meningkatkan kualitas ketakwaan seorang muslim.
Dosen Hukum Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Ali Imron menjelaskan, tidak ada perbedaan terkait keutamaan di hari-hari Ramadan.
Pembahasan ini mengarah pada stigma umat muslim, di mana keutamaan Ramadan dibagi dalam tiga fase.
Menurut Ali, ada hadis yang menyebut Ramadan terbagi menjadi tiga fase 10 hari pertama, 10 hari kedua, dan 10 hari terakhir. Menurut pandangan Muhammadiyah, hadis tersebut maudlu’ atau tidak sahih. Sehingga tidak bisa dijadikan landasan utama dalam beribadah.
“Tidak ada perbedaan keutamaan di antara hari-hari dalam Ramadan. Semua hari punya nilai kemuliaan yang sama, maka harus dioptimalkan dengan amal saleh,” jelasnya.
Ali menekankan, keutamaan Ramadan justru terletak pada kesempatan untuk meningkatkan kualitas ketakwaan seseorang. Sesuai anjuran Rasulullah SAW, umat muslim didorong untuk memperbanyak amal saleh.
Seperti salat wajib dan sunah, tadarus Alquran, infak, berzakat, serta kepedulian sosial lainnya.
“Inti dari ibadah puasa adalah pengendalian hawa nafsu. Jika hawa nafsu adalah keinginan dan niat yang jahat, maka harus dikendalikan. Baik secara lisan, perbuatan, maupun sikap,” bebernya.
Ali juga meluruskan pemahaman masyarakat, terkait hadis yang menyebut pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu selama Ramadan. Menurutnya, hadis tersebut simbolik.
Pintu surga terbuka, dimaknai sebagai terbukanya jalan amal saleh seluas-luasnya. Sedangkan pintu neraka tertutup, karena umat muslim mampu menahan hawa nafsu yang menjadi penyebab utama perbuatan maksiat.
“Setan dibelenggu itu, karena pada bulan puasa, umat muslim beramal saleh dan mengendalikan hawa nafsu. Maka setan tidak mampu menggoda dan mengajak berbuat maksiat,” ujarnya.
Berpuasa, lanjut Ali, membentuk sikap empati. Karena umat muslim merasakan langsung penderitaan kaum duafa.
“Ramadan juga memiliki cerminan sosial yang kuat. Kewajiban zakat fitrah, anjuran sedekah, juga tradisi berbagi, menjadi sarana membersihkan harta sekaligus mempererat solidaritas umat,” urainya.
Ali membagikan beberapa kiat untuk meraih seluruh keutamaan Ramadan. Seperti menanamkan niat kuat untuk berinteraksi optimal dengan Ramadan, memperbanyak istighfar, serta membuka hati untuk menerima dan mengamalkan ajaran Islam dengan ikhlas.
“Selanjutnya, kita harus yakin dengan janji-janji Allah SWT. Terutama bagi orang yang berpuasa dan mengharapkan ridha dan rahmat-Nya,” ujarnya.
Tak lupa, Ali mengajak untuk belajar tentang fikih puasa. Bisa dipelajari lewat pengajian di masjid, YouTube, atau sumber tepercaya lainnya.
“Ramadan tidak hanya rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi sarana transformasi spiritual yang membentuk pribadi bertakwa, berakhlak, dan peduli terhadap sesama,” pesannya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto