Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kisah Abdul Rohim, Mahasiswa UMS asal Thailand Jalani Puasa di Indonesia, Kaget Tradisi Bangunkan Sahur

Alfida Nurcholisah • Kamis, 19 Februari 2026 | 17:25 WIB

 

Abdul Rohim (kanan), mahasiswa UMS asal Thailand saat berada di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo.
Abdul Rohim (kanan), mahasiswa UMS asal Thailand saat berada di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo.

RADARSOLO.COM - Bulan suci Ramadan meninggalkan kesan mendalam bagi Abdul Rohim, 25, mahasiswa S2 Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Terutama saat momentum ngabuburit dan sahur.

Menjalani ibadah puasa Ramadan di Solo Raya memberi kebahagiaan tiada tara bagi Abdul Rohim. Meski sempat terkendala adaptasi bahasa, Abdul justru nyaman dengan lingkungannya.

“Saya sudah dua tahun empa bulan belajar di sini. Kesan-kesan saat Ramadan di Solo, bagi saya sangat luar biasa,” ujar Abdul dengan logat khas Melayu, Kamis (19/2).

Tinggal di lingkungan mayoritas muslim bikin Abdul betah. Terutama saat Ramadan tiba. Suasananya sangat meriah.

Beda dengan kampung halamannya yang relatif sepi dari hingar bingar Ramadan.

“Keluar rumah saja sudah sangat meriah. Saya sangat suka melihat keramaian ngabuburit. Penjualnya ramah,” imbuhnya.

Satu hal paling berkesan bagi Abdul, yakni saat tiba waktu sahur. Dia sempat kaget dengan tradisi membangunkan sahur oleh anak-anak dan remaja.

“Awalnya saya bingung. Bising sekali nyanyi-nyanyi jam 2-3 pagi tiap hari,” kenangnya sembari tertawa lepas.

Setelah tahu budaya sahur di sini, Abdul justru merindukan suasana tersebut. Budaya itu menurutnya unik dan seru. Membuatnya tidak merasa kesepian meski jauh dari keluarga.

“Di sini kulturnya sangat kuat. Tidak pernah sepi. Di sini semua ramah, jadi tidak terlalu rindu rumah. Suasana Ramadannya sangat terasa,” ujarnya.

Tradisi lain yang beda dengan Thailand, yakni bagi-bagi takjil di masjid.

Shock culture sekali. Semua masjid ada takjil. Makanan dibagikan gratis. Di Thailand tidak ada,” bebernya.

Momentum yang ditunggu-tunggu, yakni perayaan malam takbir.

“Di Thailand hanya melantunkan takbir di masjid. Kalau di sini meriah sekali. Ada musiknya sambil jalan keliling,” jelasnya.

Nah, bicara Ramadan, kurang afdol kalau tidak membahas kulinernya. Sajian menu Ramadan seperti kolak pisang dan es teler, jadi favorit Abdul saat berbuka puasa.

“Kalau makan berat, seringnya ayam geprek. Tapi kalau ada kuah, paling the best tengkleng sapi, sop iga sapi, dan sop ayam,” bebernya antusias.

Di sisi lain, rumah kontrakan Abdul di Colomadu, Karanganyar sering jadi jujugabn mahasiswa Thailand di Solo. Mereka kerap buka bersama (bukber), sembari melepas rindu pada kampung halaman.

“Biasanya bikin masakan Thailand. Seringnya pad ped kai (rica ayam), tomyam, atau telur dadar tergantung request teman-teman,” jelasnya.

Agustus ini, studi Abdul di Indonesia akan berakhir. Ia menyimpan harapan khusus untuk Ramadan 1447 Hijriah ini.

“Semoga Ramadan tahun ini membawa keberkahan bagi semua umat muslim. Terutama bagi kami mahasiswa asing. Meski jauh dari kampung halaman, semoga ukhuwah tetap terjaga,” tandasnya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#musafir #puasa di negeri orang #mahasiswa ums asal thailand puasa di solo