RADARSOLO.COM – Ramadan identik dengan suasana yang meriah dengan mempersiapkan menu sahur dan berbuka. Tapi di tengah suasana itu, makna puasa sering menyempit hanya pada urusan menahan lapar dan dahaga.
Padahal, menurut Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof. Dr. Joko Nurkamto, justru yang paling awal harus dibenahi adalah niatnya.
Dia menyebut, banyak orang menjalani puasa sebagai kebiasaan tahunan tanpa benar-benar merefleksikan orientasi batinnya. Dalam praktiknya, yang dijaga sering kali hanya fisik, sementara aspek moral dan spiritual kurang disentuh.
“Puasa itu bukan sekadar tidak makan dan minum. Kalau hanya berhenti di situ, ya hanya dapat capeknya saja. Intinya ada pada niat.” ucap Prof. Dr. Joko Nurkamto kepada tim Jawa Pos Radar Solo, Jumat (20/2).
Secara bahasa, puasa berarti menahan diri. Namun dalam pengertian syariat, maknanya lebih spesifik: menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
Batas waktu itu tegas, tapi menurut Joko, yang lebih menentukan adalah kesadaran batin yang menyertainya.
Dia menilai, niat bukan sekadar formalitas sebelum sahur. Niat adalah kesengajaan hati yang memengaruhi sikap sepanjang hari. Dari sana, kualitas puasa dibentuk.
“Niat itu fondasi. Kalau fondasinya goyah, bangunannya juga tidak kuat. Puasa bisa saja sah, tapi belum tentu bernilai," ucapnya.
Tujuan puasa, lanjutnya, adalah membentuk ketakwaan. Ketakwaan itu tidak lahir otomatis hanya karena seseorang berpuasa. Ia tumbuh dari proses pengendalian diri yang konsisten.
“Ukuran puasa bukan seberapa kuat menahan haus, tapi seberapa mampu menahan emosi dan menjaga lisan," jelasnya.
Dalam konteks fikih, ia mengingatkan pentingnya memahami syarat wajib puasa: beragama Islam, baligh, berakal sehat, serta mampu menjalankannya.
Islam, lanjutnya, tidak menetapkan kewajiban tanpa mempertimbangkan kesiapan individu.
Selain itu, ada syarat sah yang kerap tidak diperhatikan. Beragama Islam, mumayyiz, suci dari haid dan nifas bagi perempuan, serta dilakukan pada waktu yang ditentukan menjadi ketentuan dasar agar puasa diakui secara hukum.
“Kalau syarat sahnya tidak terpenuhi, puasanya tidak dianggap. Ini bukan soal merasa sudah berpuasa, tapi soal ketentuan syariat,” katanya lugas.
Rukun puasa sendiri hanya dua: niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak fajar hingga magrib. Sederhana secara konsep, tetapi berat dalam praktik.
Menurutnya, dua rukun itu adalah inti yang tidak bisa ditawar. Tanpa niat dan tanpa upaya menahan diri, ibadah puasa kehilangan strukturnya.
“Rukunnya memang ringkas, tapi sangat prinsipil. Di situlah letak kesungguhan seseorang," ujarnya.
Terkait pembatal puasa, ia menyebut makan dan minum dengan sengaja, muntah dengan sengaja, hubungan suami istri di siang hari, haid atau nifas, serta keluarnya mani dengan sengaja.
Semua itu sudah jelas dalam fikih dan memiliki konsekuensi hukum.
Namun ia justru menyoroti hal lain yang sering luput dari perhatian: perilaku yang tidak membatalkan secara hukum, tetapi menggerus pahala.
Berbohong, menggunjing, berkata kasar, dan marah berlebihan sering dianggap sepele.
“Bisa saja puasanya sah, tapi nilainya terkikis karena sikap kita sendiri. Ramadan itu latihan integritas, bukan sekadar menahan lapar," pungkasnya.
Bagi Joko, Ramadan seharusnya menjadi momentum pembentukan karakter.
Dengan niat yang lurus, pemahaman yang benar tentang rukun dan syarat, serta kesadaran menjaga diri dari pembatal maupun perusak pahala, puasa menjadi lebih dari ritual. Ia menjadi proses pendewasaan spiritual yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy