RADARSOLO.COM - Ramadan bukan alasan untuk bermalas-malasan dan meliburkan diri dari kegiatan berolahraga.
Komunitas Tiba-Tiba Suka Lari justru menyarankan untuk tetap aktif berolahraga selama bulan puasa dengan strategi latihan yang lebih terukur.
Prinsipnya sederhana, bukan memaksakan volume, melainkan cermat dalam mengatur timing dan intensitas.
Tren hidup sehat di Solo dalam beberapa tahun terakhir memang meningkat signifikan. Even lari, komunitas jogging, hingga latihan bersama kini menjadi bagian dari kultur urban baru.
Namun di bulan puasa kali ini, kegiatan fisik tersebut mendapatkan tantangan yang tak bisa diabaikan.
Perwakilan dari komunitas Tiba-Tiba Suka Lari Stephen Christian Susanto menyebut, waktu ideal latihan adalah menjelang berbuka puasa.
Menurutnya, fase itu menjadi kompromi terbaik antara kebutuhan olahraga dan kondisi tubuh yang sedang berpuasa.
“Kita menyarankan untuk tetap aktif puasa, dan waktu yang kita sarankan itu saat ngabuburit. Tiga puluh menit sebelum berbuka menjadi waktu yang pas untuk melakukan olahraga lari,” ujarnya.
Skema ini, kata dia, memberi keuntungan dari sisi pemulihan. Setelah sesi 30 menit selesai, pelari dapat langsung membatalkan puasa untuk mengganti cairan dan asupan energi.
Risiko dehidrasi berkepanjangan pun bisa ditekan karena tubuh tidak terlalu lama berada dalam kondisi defisit cairan.
Bagi pelari yang tengah mempersiapkan event seperti half marathon, strategi latihan tetap berjalan tetapi dengan modifikasi.
Untuk latihan Long run, menurutnya, bukan menu harian yang tepat selama Ramadan. Aktivitas lari jarak di atas 10 kilometer membutuhkan energi dan hidrasi yang stabil. Oleh sebab itu, waktu malam menjadi opsi yang lebih aman untuk sesi jarak jauh.
“Setelah 30 menit melakukan lari dan membatalkan puasa, biasanya mereka melanjutkan program latihannya. Namun kami tidak menyarankan untuk melakukan long run karena kondisi fisik puasa sepanjang hari pastinya mencari intensitas yang cukup saja,” ucap Stephen.
“Kalau melakukan long run pastinya dilakukan di jam 8 atau setengah 9 karena jaraknya lebih dari 10 km. Untuk long run seperti ini, biasanya teman-teman mengadakan kegiatan lari sampai waktu sahur dan biasanya disebut sahurun,” tegasnya.
Sementara itu, untuk pelari pemula, rekomendasinya jauh lebih sederhana. Cukup lari 30 menit dengan pace ringan atau bahkan jalan cepat sejauh kurang lebih 5 kilometer.
Frekuensi latihan bisa dilakukan setiap hari atau dua hingga tiga kali dalam sepekan untuk menjaga kebugaran dasar.
“Saran saya, bisa dilakukan dengan pace yang tidak kencang dalam durasi 30 menit dan jarak sekitar 5 km,” pungkasnya.
Dengan pendekatan yang adaptif, komunitas berharap tren hidup aktif tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan maupun kualitas ibadah.
Ramadan, menurut mereka, bukan momen untuk berhenti bergerak, melainkan kesempatan melatih disiplin fisik sekaligus mental.
Keseimbangan antara olahraga dan spiritualitas menjadi kunci agar performa tetap stabil hingga akhir bulan suci. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy