Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ramai-ramai ke Coffeshop, Saf Tarawih di Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Solo Tak Lagi Penuh

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:05 WIB

Suasana salat tarawih di Masjid Al-Wustho Mangkunegaran
Suasana salat tarawih di Masjid Al-Wustho Mangkunegaran

RADARSOLO.COM - Masjid Al-Wustho Mangkunegaran bukan sekadar rumah ibadah biasa di Kota Bengawan.

Masjid yang sarat sejarah ini mulai dibangun sekitar tahun 1878 pada masa pemerintahan Mangkunegoro IV.

Masjid ini awalnya berlokasi di Kauman, Pasar Legi sebelum dipindahkan lokasinya di Jalan Kartini.

 Baca Juga: Ramadan 2026, Masjid Agung Surakarta Rangkul Perbedaan dan Siapkan Layanan Maksimal

Pembangunan masjid secara modern kemudian dikembangkan lagi pada era Mangkunegoro VII sekitar tahun 1919-1926 dengan sentuhan arsitek Thomas Karsten.

Sebagai masjid yang kaya akan sejarah, masjid Al Wustho selama ini dikenal selalu ramai ketika Ramadan tiba.

Tradisi tarawih, tadarus, hingga kajian rutin menjadi magnet bagi warga sekitar, termasuk kalangan pelajar dan mahasiswa.

Atmosfer religius yang khas kerap menghadirkan suasana khusyuk sekaligus hangat di tengah denyut kota.

Namun, suasana berbeda terasa pada Ramadan 2026.

Saf-saf shalat tarawih di awal bulan terlihat belum terisi penuh seperti tahun-tahun sebelumnya. Pengurus masjid menangkap adanya penurunan semangat, khususnya dari kalangan anak muda.

“Menyikapi fenomena Ramadan 2026, kelihatan memang kurang ada semangat, terutama kepada anak-anak muda karena jaman sekarang ini adalah era globalisasi dan informasi digital,” ungkap Purwanto sebagai pengurus Masjid Al Wustho Mangkunegaran.

Menurutnya, perubahan pola hidup generasi muda yang terpapar akan digitalisasi memberikan pengaruh dari sepinya antusiasme Ramadan di tahun ini.

Selain itu, ketiadaan keluarga dalam menanamkan pendidikan agama juga menjadi salah satu faktor anak muda yang kini enggan meramaikan masjid di bulan Ramadan.

“Menurut saya, kurangnya keteladanan dari orang tua juga memberi andil untuk anak-anak muda saat ini kurang semangat dalam menyambut bulan Ramadan,” lanjutnya.

Purwanto juga menyoroti perubahan kultur sosial di Kota Solo. Maraknya kedai kopi dan tempat nongkrong menjadi alternatif ruang berkumpul anak muda saat malam hari.

Situasi ini secara tidak langsung menggeser kebiasaan lama yang menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas selama Ramadan.

Ia menambahkan, distribusi jamaah juga dipengaruhi hadirnya masjid-masjid baru berskala besar di Solo.

Salah satunya adalah Masjid Raya Sheikh Zayed yang kini menjadi ikon religi sekaligus destinasi wisata spiritual. Keberadaan masjid tersebut diakui membawa dampak pada berkurangnya jumlah jamaah di beberapa masjid lama, termasuk Al Wustho.

"Maraknya tempat-tempat kopi juga kurang lebih memberi dampak sepinya masjid dari anak-anak muda yang biasanya meramaikan masjid di waktu Ramadan. Selain itu, hadirnya masjid-masjid baru di Kota Solo seperti Masjid Zayed membawa pengaruh berkurangnya jamaah yang salat di Masjid Al Wustho," ujar Purwanto.

Meski demikian, pengurus memastikan program Ramadan 2026 tetap berjalan seperti biasa. Shalat tarawih 24 rakaat, tadarus, pengumpulan zakat fitrah, malam takbiran, hingga shalat Idul Fitri tetap menjadi agenda utama.

"Adapun untuk program-program Ramadhan 2026 di Masjid Al-Wustho, mengacu pada kegiatan-kegiatan lalu yang sudah mendapatkan evaluasi. Program yang ada seperti salat tarawih 24 rakaat, tadarus, zakat fitrah, malam takbiran dan sholat Idul Fitri di puncak bulan Ramadan nantinya," pungkasnya. (hj/nik) 

Editor : Niko auglandy
#zakat #Salat Tarawih #Masjid Al-Wustho Mangkunegaran #tadarus