RADARSOLO.COM - Meski sekilas tampak serupa dalam mengatur jendela makan, puasa Ramadhan dan intermittent fasting (IF) memiliki perbedaan mendasar dari sisi penerapan gizi dan tujuan.
Pakar Gizi Universitas Airlangga Mahmud Aditya Rifqi menekankan pentingnya memahami batasan gizi agar metabolisme tubuh tetap terjaga selama menjalani kedua pola tersebut.
Mahmud menjelaskan bahwa perbedaan paling mencolok terletak pada tingkat keketatan asupan cairan. Jika intermittent fasting masih memperbolehkan konsumsi air putih, kopi, atau teh tanpa kalori, puasa Ramadan mewajibkan penghentian total asupan makanan dan minuman sejak fajar hingga matahari terbenam.
"Puasa Ramadhan fokus utamanya adalah ibadah dengan durasi sekitar 13–14 jam. Sementara intermittent fasting adalah metode kesehatan dengan variasi pola yang lebih beragam, seperti metode 16:8 atau 5:2," ujar Mahmud.
Dari sudut pandang ilmu gizi, kedua jenis puasa ini terbukti mampu meningkatkan sensitivitas insulin yang bermanfaat bagi pengendalian gula darah. Namun, Mahmud memperingatkan adanya risiko penurunan massa otot jika asupan kalori berada di bawah Basal Metabolic Rate (BMR).
"Tubuh membutuhkan energi minimal agar organ vital tetap berfungsi. Jika kalori terus-menerus di bawah batas minimal, tubuh tidak hanya membakar lemak, tetapi juga mulai menggunakan protein otot sebagai energi. Ini berbahaya bagi komposisi tubuh," jelasnya.
Bagi mereka yang menjalankan IF, ia menyarankan pengurangan kalori dilakukan secara bertahap, yakni berkisar 300 hingga 500 kkal dari kebutuhan harian normal.
Agar puasa Ramadhan tidak sekadar menjadi ajang "balas dendam" saat berbuka, Mahmud membagikan beberapa panduan praktis.
Pertama, hindari makan berlebihan. Jangan menumpuk porsi makan besar dalam waktu singkat setelah berbuka agar beban kerja pencernaan tidak berlebih.
Kedua, pola cairan 2-4-2. Pastikan asupan minimal 8 gelas air per hari dengan pembagian 2 gelas saat berbuka, 4 gelas sepanjang malam, dan 2 gelas saat sahur.
Ketiga, prioritas serat. Konsumsi sayur dan buah untuk menjaga rasa kenyang lebih lama serta menstabilkan energi.
Keempat, menu hidrasi. Makanan berkuah seperti soto sangat disarankan untuk membantu kecukupan cairan tubuh.
"Puasa Ramadhan adalah momentum ibadah sekaligus kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya adalah keseimbangan asupan yang sesuai dengan kebutuhan biologis tubuh," ujarnya. (bun)
Editor : Kabun Triyatno