RADARSOLO.COM - Datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah tidak memengaruhi penyaluran menu makan bergizi gratis (MBG).
Di Kota Solo, siswa SD dan SMP tetap mendapat jatah MBG selama bulan puasa tahun ini. Namun, menu yang diberikan agak berbeda dari hari biasa.
Menu yang disajikan berupa makanan kering, yang bisa dibawa pulang untuk disantap saat berbuka puasa di rumah.
Pelajar di Kota Solo sudah mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) normal, kemarin (23/2), setelah sepekan sebelumnya libur awal bulan puasa Ramadan 1447 Hijriah.
Terkait menu makan bergizi gratis (MBG) ternyata masih dibagikan. Hanya saja menu yang disediakan dalam bentuk kering.
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Solo Priyo Widyastoko menjelaskan, MBG sejatinya sudah berjalan sejak 17 Februari untuk kelompok prioritas 3B. Tepatnya balita, ibu hamil (bumil), dan ibu menyusui (busui). Kelompok tersebut tak terpengaruh jadwal libur sekolah.
Sedangkan untuk pelajar, menunya tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Tetap mengacu pada angka kecukupan gizi (AKG). Namun, ada penyesuaian dalam bentuk penyajian.
“Sekarang yang penting kebutuhan gizinya terpenuhi sesuai AKG. Menu MBG dilarang pakai bahan berpengawet,” jelas Priyo, kemarin (23/2).
Priyo menambahkan, pada Ramadan tahun lalu ada menu wajib seperti kurma dan telur. Kini, dua menu itu tidak diwajibklan lagi.
“Menu lebih fleksibel, selama tetap memenuhi standar gizi yang ditetapkan,” imbuhnya.
Di sekolah-sekolah yang mayoritas siswanya puasa, MBG diberikan dalam bentuk menu kering. Dibagikan menjelang jam pulang sekolah, agar bisa dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka.
Seperti halnya di SDN Joglo No. 76, Kandipiro, Banjarsari, Solo. Hari pertama masuk kemarin, siswa menerima menu burger isi ayam dan keju, serta puding ubi sebagai pelengkap. Seluruh paket dibagikan untuk dibawa pulang.
Sementara itu, koordinator MBG SDN Rejosari Kukuh Imam mengaku menerima menu ringan. “Hari ini (kemarin) mulai lagi. Isinya makanan ringan atau snack buat buka puasa. Ada susu, telur, roti, dan kurma,” jelasnya.
Di SDN Rejosari, total penerima MBG sebanyak 430 orang, terdiri dari siswa dan guru. Kukuh menjelaskan, pembagian akan terus dilakukan selama siswa masuk sekolah. Ketika memasuki libur Lebaran nanti, pihak sekolah akan bersurat resmi kepada SPPG untuk menghentikan sementara suplai MBG.
“Kalau tidak diberi surat keterangan, nanti akan tetap disetorkan MBG walaupun sekolah libur. Jadi perlu koordinasi rutin antara sekolah dan SPPG supaya distribusi tepat sasaran dan tidak mubazir,” jelasnya.
Menurut Kukuh, respons hari pertama cukup menggembirakan. Banyak siswa merasa senang karena sejak berangkat sekolah sudah mendapatkan makanan untuk berbuka puasa. Para guru pun menyambut positif program tersebut.
“Harapan saya ke depan mungkin bisa ditambah buah,” pungkasnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto