RADARSOLO.COM - Puasa tidak cukup hanya menahan lapar dan dahaga. Umat muslim juga dituntut menjaga akhlak, perilaku, serta lisan agar ibadah di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah tidak kehilangan makna dan pahala.
Ramadan menjadi momentum untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan hanya dalam tindakan nyata, tetapi juga dalam setiap ucapan. Baik secara lisan maupun saat ber-media sosial (medsos).
Sekretaris PPMI Assalaam Arkanudin Budiyanto mengingatkan, menjaga lisan merupakan bagian penting dari kesempurnaan puasa.
“Seperti hadis Rasulullah SAW riwayat Al Bukhari, barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah SWT tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan,” jelas Arkanudin, Senin (23/2).
Menurut Arkanudin, hadis tersebut menjadi pengingat bahwa puasa bukan sekadar ibadah fisik, melainkan juga ibadah moral. Menahan diri dari makan dan minum harus diiringi upaya meninggalkan perkataan dusta, fitnah, maupun perilaku tercela lainnya.
Salah satu kebiasaan yang kerap dianggap sepele namun berdampak besar adalah ghibah atau membicarakan keburukan orang lain. Meskipun yang disampaikan itu benar adanya.
“Para ulama sepakat, bahwa ghibah hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Di era digital, ghibah tidak hanya terjadi lewat lisan, tetapi juga melalui tulisan, komentar, unggahan, dan berbagai bentuk interaksi di media sosial,” bebernya.
Ia mencontohkan riwayat hadis dari Imam Ahmad, ketika seorang wanita menemui istri Rasulullah, Aisyah. Saat wanita itu hendak pergi, Aisyah memberi isyarat dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa wanita tersebut bertubuh pendek.
“Rasulullah SAW kemudian bersabda, ‘Engkau telah meng-ghibah-nya’. Peristiwa itu menunjukkan bahwa isyarat sekali pun termasuk ghibah, jika bermaksud merendahkan orang lain,” urai Arkanudin.
Arkanudin menegaskan, meskipun puasa tetap sah secara hukum fikih, tapi ketika seseorang melakukan ghibah, dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala.
Maka menjaga lisan di dunia nyata dan jari di dunia maya, menjadi hal yang sangat penting. Terutama di bulan suci Ramadan.
“Dalam bermedia sosial, khususnya di bulan puasa, dahulukan saring sebelum sharing. Tebarkan lebih banyak kebaikan, agar semakin banyak mendulang pahala. Jaga etika dalam berkomentar, agar puasa kita tidak berbuah lapar dan dahaga,” pesannya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto