RADARSOLO.COM – Sholat Tarawih menjadi magnet ibadah yang paling dinanti setiap malam di bulan suci Ramadan.
Tak hanya sekadar menggugurkan sunnah, rangkaian sholat malam ini merupakan sarana bagi umat Islam untuk meraih ampunan dan keberkahan yang berlipat ganda.
Namun, rangkaian ibadah ini terasa kurang lengkap tanpa ditutup dengan panjatan doa yang khusyuk.
Salah satu doa yang menjadi tradisi kuat di Nusantara adalah Doa Kamilin.
Doa ini dipanjatkan sebagai permohonan agar seorang hamba dikaruniai iman yang sempurna pasca-menjalankan ibadah Tarawih, baik yang melaksanakan 20 rakaat maupun 8 rakaat.
Landasan Rakaat Tarawih: Antara 20 dan 8 Rakaat
Perbedaan jumlah rakaat Tarawih di masyarakat sebenarnya merupakan kekayaan khazanah keilmuan Islam.
Berdasarkan pandangan Mazhab Syafi’i—yang dianut mayoritas Muslim Indonesia—Imam an-Nawawi menegaskan bahwa Tarawih idealnya dilakukan sebanyak 20 rakaat dengan 10 kali salam.
Di sisi lain, sebagian ulama dari Mazhab Hanafi seperti Imam al-Kamal Ibnu al-Humam menjelaskan bahwa mengerjakan 8 rakaat (sebelas rakaat bersama Witir) sudah mencukupi kesunnahan berdasarkan perbuatan Nabi SAW. Sementara menggenapkannya hingga 20 rakaat adalah amalan yang sangat dianjurkan (mustahab).
Terlepas dari jumlah rakaat yang dipilih, para ulama sepakat bahwa menutup ibadah tersebut dengan doa adalah hal yang sangat utama.
Bacaan Doa Kamilin Usai Sholat Tarawih
Nama "Kamilin" diambil dari kalimat pembuka Allahummaj’alna bil iimaani kaamiliin, yang berarti "Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya."
Doa ini bukan sekadar susunan kata, melainkan kristalisasi harapan umat Islam untuk selamat di dunia dan akhirat.
Kandungannya mencakup permohonan agar istiqomah dalam sholat, zakat, hingga harapan mendapatkan perlindungan di bawah panji Nabi Muhammad SAW di hari kiamat kelak.
Teks Arab Doa Kamilin
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ، وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِي الْاٰخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَاءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ، وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْن، وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْنٍ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا، ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِه وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Bacaan Latin:
Allahumma ij‘alnaa bil-iimaan kaamiliin, walil-faraa’idh mu-addiin, walish-shalaati haafidziin, waliz-zakaati faa‘iliin, walimaa ‘indaka thaalibiin, wali ‘afwika raajiin, wabil-hudaa mutamassikiin, wa ‘anil-laghwi mu‘ridhiin, wa fid-dunyaa zaahidiin, wa fil aakhirati raaghibiin, wabil-qadhaa’i raadhiin, walin-na‘maa’i syaakiriin, wa ‘alal-balaa’i shaabiriin, wa tahta liwaa’i Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam yaumal qiyaamati saairiin, wa ‘alal haudhi waaridiin, wa ilal jannati daakhiliin, wa minan naari naajiin, wa ‘alaa sariiril karaamati qaa‘idiin, wa bihuurin ‘iin mutazawwijiin, wa min sundusin wa istabraqin wa diibaajin mutalabbisiin, wa min tha‘aamil jannati aakiliin, wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syaaribiin, bi akwaabin wa abaariqa wa ka’sin mim ma‘iinin ma‘al ladziina an‘amta ‘alaihim minan nabiyyin wash-shiddiqiin wash-syuhadaa’i wash-shaalihiin, wa hasuna ulaa’ika rafiiqaa, dzaalikal fadhlu minallaah, wa kafaa billaahi ‘aliimaa. Allahumma ij‘alnaa fii haadzihil lailatisy syahrisy syariifatil mubaarakah minas su‘adaa’il maqbuuliin, wa laa taj‘alnaa minal asyqiyaail marduudiin. Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa aalihi wa shahbihi ajma‘iin, birahmatika yaa arhamar raahimiin, walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, menunaikan kewajiban-kewajiban, menjaga shalat, menunaikan zakat, mencari sesuatu yang ada di sisi-Mu, mengharapkan ampunan-Mu, berpegang teguh pada petunjuk-Mu, berpaling dari perkara yang sia-sia, zuhud terhadap dunia, senang terhadap akhirat, ridho dengan ketetapan-Mu, bersyukur atas nikmat-Mu, bersabar menghadapi cobaan, berjalan di bawah panji Nabi Muhammad SAW pada hari Kiamat, mengunjungi telaga (Kautsar), masuk ke dalam surga, selamat dari neraka, duduk di atas ranjang kemuliaan, menikahi bidadari, mengenakan sutera tebal dan tipis yang indah, menikmati makanan surga, minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cerek, dan piala yang berasal dari mata air surga, bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka itulah sebaik-baik teman. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan penuh berkah ini termasuk orang-orang yang berbahagia dan diterima amalnya. Janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang sengsara dan ditolak amalnya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keberkahan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih di antara semua yang mengasihi. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”
Makna dan Keutamaan Doa Kamilin
Doa ini berisi harapan agar kita tidak termasuk golongan orang yang ditolak amalnya (marduudiin).
Selain itu, terdapat sisi spiritual yang mendalam karena doa ini diijazahkan oleh ulama-ulama besar Nusantara.
Warisan Ulama: Doa ini tercantum dalam kitab Silah al-Mujarrab karya KH Maftuh Basthul Birri (Lirboyo) dan kitab Majmu’ah Maqruat yang disusun oleh KH Abdullah Faqih (Langitan).
Sanad Keilmuan: KH Abdullah Faqih menyebutkan bahwa doa-doa ini bersumber dari ijazah Kiai Abdul Hadi, Kiai Ma'shum Lasem, hingga ulama dunia seperti Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dan Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani.
Membaca Doa Kamilin usai Tarawih adalah cara terbaik bagi seorang Muslim untuk mengekspresikan kerendahhatian di hadapan Allah SWT, sekaligus memohon kenikmatan surga yang abadi. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria