RADARSOLO.COM – Tidak semua ibu menyusui dianjurkan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan. Dalam kondisi tertentu, keputusan berpuasa justru perlu dipertimbangkan ulang demi menjaga kesehatan ibu maupun bayi, terutama bagi bayi yang masih sepenuhnya bergantung pada ASI sebagai sumber nutrisi utama.
Konselor laktasi RS Indriati Solo Baru, dr. Lisa Marisa menjelaskan, keputusan untuk berpuasa bagi ibu menyusui tidak bisa digeneralisasi.
Setiap ibu memiliki kondisi fisik dan situasi bayi yang berbeda. Karena itu, penilaian harus dilakukan secara individual, dengan mempertimbangkan usia serta kondisi kesehatan bayi.
Dia menegaskan, ibu menyusui dengan bayi berusia di bawah enam bulan harus lebih berhati-hati. Pada usia tersebut, bayi masih mendapatkan ASI eksklusif sebagai satu-satunya sumber nutrisi.
Kondisi ini membuat kebutuhan ASI harus terjamin sepanjang hari agar tumbuh kembang bayi tidak terganggu.
“Ibu menyusui perlu mempertimbangkan banyak hal sebelum berpuasa, terutama jika bayinya masih di bawah enam bulan dan masih ASI eksklusif. Pada usia itu, ASI adalah satu-satunya sumber nutrisi,” kata Lisa.
Menurutnya, risiko tetap ada meskipun tidak muncul pada semua ibu menyusui. Puasa dapat memengaruhi produksi ASI maupun kandungan mikronutrien di dalamnya.
Jika produksi menurun atau kualitas berkurang, maka bayi berpotensi mengalami kekurangan asupan gizi.
“Risiko itu tetap ada. Risiko penurunan produksi dan kandungan micronutrient bisa terjadi pada beberapa ibu. Dan karena bayi di bawah enam bulan hanya bergantung pada ASI, ini harus jadi pertimbangan,” jelasnya.
Selain usia, kondisi kesehatan bayi juga harus diperhatikan. Bayi yang sedang sakit membutuhkan asupan nutrisi yang lebih optimal. Dalam situasi seperti ini, ibu menyusui sebaiknya tidak memaksakan diri berpuasa.
Lisa mencontohkan, bayi dengan berat badan lahir rendah atau mengalami gangguan pertumbuhan memerlukan perhatian ekstra. Asupan nutrisinya harus terpenuhi untuk mengejar tumbuh kembang, dan hal ini sulit dicapai jika produksi ASI menurun.
“Kondisi bayi sakit atau berat lahir rendah membuat kebutuhan nutrisi harus dikejar. Kalau sumber nutrisinya hanya dari ASI, maka keputusan berpuasa perlu dipertimbangkan lebih matang,” terangnya.
Dia menegaskan bahwa kesehatan bayi tetap menjadi prioritas utama.
Jika puasa berpotensi mengurangi kecukupan nutrisi yang dibutuhkan bayi, maka ibu sebaiknya menunda puasa demi keselamatan buah hati.
Konsultasi dengan tenaga kesehatan juga penting agar ibu memahami kondisi tubuhnya dan kebutuhan bayinya secara menyeluruh.
Dengan evaluasi medis yang tepat, ibu menyusui tetap bisa menjalankan ibadah dengan aman tanpa mengorbankan tumbuh kembang bayi. (hj/nik)