RADARSOLO.COM - Ramadan tahun ini menjadi pengalaman istimewa bagi Dalerbek Pirmatov, asal Tajikistan. Mahasiswa salah satu kampus di Solo ini kesengsem dengan menu berbuka puasa, termasuk tradisi padusan.
Tak henti-hentinya Hamza (sapaan akrab Dalerbek Pirmatov) mengucap rasa syukur, bisa menjalani ibadah puasa Ramadan di Indonesia. Karena ia bisa mengenal beragam tradisi, yang tidak pernah ada di kampung halamannya.
“Sejauh ini, menjalani Ramadan di Indonesia sangat menyenangkan. Ada beberapa perbedaan budaya Ramadan, antara negara saya dan di sini,” kata Hamza, Rabu (25/2).
Tradisi yang paling berkesan, yakni ngabuburit dan berbagi takjil di masjid. Apalagi menu yang disajikan saat berbuka puasa bersama (bukber) cukup bervariasi.
“Kalau di Tajikistan, orang-orang di sana buka puasa hanya minum air putih dan makan kurma. Beda sekali dengan di Indonesia,” bebernya.
Bagi Hamza, menu takjil yang dijual pedagang di jalanan juga tidak ditemui di negaranya.
“Orang-orang berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Itu sangat terasa dan spesial sekali,” imbuhnya.
Selama di Indonesia, Hamza juga menyoroti tradisi padusan di umbul atau pemandian umum lainnya. Tradisi ini dilakukan umat muslim untuk mensucikan diri, jelang memasuki bulan puasa Ramadan.
“Sangat beda sekali. Tidak ada padusan di negara saya. Tapi kalai ziarah kubur, ada kemiripan dengan Tajikistan,” ujarnya.
Namanya musafir, Hamza sempat kaget dengan menu kuliner di Indonesia. Apalagi ia tidak terbiasa berbuka puasa dengan menu nasi.
“Awalnya butuh waktu adaptasi, tapi sekarang sudah terbiasa. Enak sekali nasi pakai ayam goreng. Saya juga mencoba padukan masakan Indonesia dengan Tajikistan di rumah. Kombinasi itu rasanya juga enak,” jelasnya.
Soal durasi berpuasa, disebut hampir sama antara Tajikistan dengan Indonesia.
“Harapan saya, Ramadan ini tidak hanya menahan makan dan minum. Benar-benar melatih pengendalian diri dan meningkatkan takwa,” bebernya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto