RADARSOLO.COM - Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan merupakan salah satu ibadah yang wajib dilakukan untuk kaum muslimin. Namun untuk ibu menyusui, apakah bisa menjalankan ibadah puasa?
Jawabannya bisa, namun ada beberapa hal yang wajib diperhatikan. Menurut konselor Laktasi di RS Indria Solo Baru, dr. Lisa Marisa, IBCLC, ibu menyusui tetap bisa menjalankan ibadah puasa asalkan kondisi ibu dan bayi sehat.
"Ibu menyusui boleh menjalankan puasa tapi memang ada hal-hal yang harus diperhatikan. Boleh berpuasa selama kondisi ibu dan bayi sehat, kemudian selama produksi ASI-nya masih mencukupi kebutuhan bayi," katanya kepada Jawapos Radar Solo, Senin (23/2).
Menurut dokter Lisa, puasa tidak selalu berdampak langsung terhadap penurunan produksi ASI. Produksi ASI relatif tetap stabil selama kebutuhan nutrisi dan cairan ibu terpenuhi dengan baik. Karena itu, perhatian terhadap pola makan menjadi faktor penting selama Ramadan.
"Apakah puasa mempengaruhi produksi ASI? Sebetulnya pengaruhnya tidak signifikan, selama kebutuhan nutrisi dan cairan ibunya itu diperhatikan dan dipenuhi dengan baik," jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan puasa tetap memiliki potensi memengaruhi kualitas ASI. Perubahan yang terjadi umumnya berkaitan dengan kandungan mikronutrien. Risiko tersebut dapat diminimalkan jika ibu menjaga asupan makanan yang seimbang.
"Ada risiko mempengaruhi kebutuhan ASI atau juga berpengaruh pada kandungan nutrisi ASI tapi kandungan gizi yang kecil atau mikronutrient-nya. Namun dengan catatan, selama ini bisa mempengaruhi kalau nutrisi dan cairan ibunya tidak dipenuhi dengan baik," terangnya.
Kebutuhan cairan menjadi hal utama yang harus diperhatikan ibu menyusui. Dalam sehari, ibu menyusui dianjurkan mengonsumsi sekitar 2,5 hingga 3 liter cairan di luar jam puasa. Asupan tersebut tidak diminum sekaligus, tetapi dibagi secara bertahap mulai waktu berbuka hingga sahur.
“Pertama, jika membicarakan tentang kebutuhan cairan yang mesti dipenuhi yakni 2,5 sampai 3 liter di luar jam puasa. Lalu bagaimana mengkonsumsinya? Maka harus ada pembagian, waktu berbuka tidak bisa langsung minum 2,5 liter kan,” katanya.
Ia menyarankan ibu menyusui memiliki cara untuk mengingat kebutuhan minum selama malam hari. Membawa botol minum saat beraktivitas menjadi salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan. Dengan cara itu, kebutuhan cairan dapat terpenuhi secara lebih teratur.
“Ketika ibu mau menjalankan shalat tarawih, bawalah botol minumnya supaya mengingat oh saya harus minum ini, itu salah satunya,” ungkapnya.
Selain cairan, komposisi makanan juga perlu diperhatikan. Menu sahur dan berbuka sebaiknya tetap memenuhi kebutuhan gizi seimbang. Karbohidrat, protein, lemak, dan serat harus tersedia agar kebutuhan energi ibu menyusui tetap terpenuhi.
Dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi dan cairan, ibu menyusui masih bisa menjalankan puasa dengan lebih aman.
Lisa mengingatkan ibu menyusui sebaiknya tidak memaksakan diri jika kondisi tubuh tidak memungkinkan. Kondisi ibu dan bayi tetap harus menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan berpuasa. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy