Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Alvira Andriyani, Pekerja Migran Asal Boyolali Berbagi Kisah Ramadan di Australia: Tarawih Lebih Singkat

Alfida Nurcholisah • Jumat, 27 Februari 2026 | 17:24 WIB

TEGAR: Alvira Andriyani (kiri) di Islamic Center sekaligus Masjid di Australia.
TEGAR: Alvira Andriyani (kiri) di Islamic Center sekaligus Masjid di Australia.

RADARSOLO.COM - Menjalani ibadah puasa Ramadan di negeri orang bukanlah hal mudah. Terutama di negara yang umat muslimnya minoritas seperti Australia.

Seperti dilakoni Alvira Andriyani, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kecamatan Teras, Boyolali.

Sudah tiga tahun ini ia menjadi PMI di Aussie. Saat ini ia bekerja di industri pemotongan ayam di kota Griffith.

Menurutnya, durasi berbupasa di Negeri Kanguru hampir sama. Namun, cuaca saat ini kurang mendukung karena memasuki musim panas.

“Kalau musim panas, puasanya berat sekali. Dulu saya kerja di farm petik cabai, benar-benar ekstrem. Puasa dengan kondisi cuaca 40 derajat Celcius,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (27/2).

Selain cuaca, suasana Ramadan di Aussie relatif sepi.

“Di sini suasana Ramadan hampir tidak terasa karena umat muslim minoritas. Masjid juga jarang. Tapi kebetulan ada satu masjid di dekat tempat saya kerja,” imbuh Alvira.

Karena masjid relatif kecil dan sempit, ibadah salat berjamaah harus dilakukan dalam beberapa sesi. Juga menyesuaikan jadwal jamaah yang mayoritas pekerja.

“Waktu istirahat kerja terbatas. Cuma 30 menit satu kali smoko (istirahat). Satu sif ada dua kali smoko. Itu aku pakau untuk berbuka dan sahur. Tidak ada waktu untuk salat Tarawih,” bebernya.

Meski waktu terbatas, Alvira sering menyempatkan diri menunaikan tarawih. Hanya saja, Tarawih dilakukan mandiri saat smoko kedua tiba. Itu pun hanya bisa menunaikan 2-4 rakaat.

“Ya Tarawihnya dipersingkat,” ujarnya.

Keterbatasan bahan makanan juga menjadi tantangan tersendiri. Karena ia harus berbelanja di toko khusus Asia, untuk sekdar memasak hidangan khas tanah air.

“Ada Asian Market. Di sini tidak semua toko jualan bahan makanan lengkap seperti rempah-rempah di Indonesia,” ujarnya.

Di sisi lain, Hari Raya Idul Fitri dilalui Alvira tanpa perayaan spesial. Dulu di tahun pertamanya, ia hanya salat Id bersama seorang temannya sesama PMI.

Baru saat Lebaran tahun lalu, ia merasakan suasana yang lebih hangat bersama komunitas muslim kota lain.

“Saya ikut makan bersama seperti open house saat Lebaran,” jelasnya.

Sementara itu, Alvira berharap tahun depan bisa menjalani Ramadan dan Lebaran di tanah air.

“Tahun ini mungkin Ramadan penuh perjuangan. Semoga tahun depan saat Visa-ku sudah habis, bisa Ramadan dan Lebaran di rumah. Ingin memperbaiki ibadah,” ujarnya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Salat Tarawih #Ramadhan 1447 Hijriah #kisah ramadan musafir asal Indonesia #pekerja migran boyolali berbagi kisah ramadan di australia #Ramadan 1447 Hijriah #Tarawih #pekerja migran indonesia