RADARSOLO.COM - Ibadah puasa di bulan suci Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Tetapi juga menjadi sarana pengendalian emosi, yang berdampak pada kesehatan mental umat muslim.
USTAD sekaligus guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) MAN 2 Solo Rohmad Abri Nur Shoddiq menjelaskan, Ramadan merupakan momentum penting untuk melatih kesabaran. Terutama dalam menghadapi berbagai tekanan di kehidupan sehari-hari.
“Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, tetapi cara mendidik batin agar emosi lebih stabil. Sehingga seseorang mampu mengendalikan dirinya,” kata Rohmad, Jumat (27/2).
Dalam pembelajaran SKI, lanjut Rohmad, sejarah Islam menunjukkan banyak peristiwa besar lahir dari kemampuan pengendalian diri. Salah satunya peristiwa Fathu Makkah, ketika Rasulullah SAW memilih memaafkan musuhnya meski berada dalam posisi menang.
“Saat itu Rasullullah menunjukkan bahwa puncak kekuatan bukanlah menaklukan musuh. Melainkan kemampuan untuk memaafkan, di saat beliau punya kuasa untuk membalas," jelas Rohmad.
Rohmad mencontohkan sebuah sebuah hadis: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menurut Rohmad, kesabaran sering kali diuji dalam aktivitas sehari-hari. Ia mencontohkan, sebagai pendidik, harus menghadapi dinamika perilaku siswa saat kondisi fisik sedang lelah karena berpuasa.
Di sisi lain, tanggung jawab sebagai pengurus masjid juga menghadirkan persoalan mendadak. Seperti fasilitas masjid yang mengalami kendala jelang pelaksanaan salat berjamaah maupun Tarawih.
“Di situ kesabaran benar-benar diuji. Apakah kita bereaksi dengan emosi atau tetap tenang mencari solusi,” ujarnya.
Pengendalian emosi selama Ramadan juga bermanfaat bagi kesehatan. Ketika seseorang mampu meredam amarah, tubuh tidak memproduksi hormon stress secara berlebihan. Sehingga kondisi psikologis menjadi lebih tenang.
Rohmad juga mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, yang membagi tingkatan puasa. Salah satunya shoum al-khusus, yaitu puasa yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga hati serta pancaindra dari emosi negatif.
Menurutnya, warga Solo yang dikenal memiliki budaya santun dan lembah manah, dapat menjadikan Ramadan sebagai ruang melatih pengelolaan emosi sosial.
“Ramadan ibarat laboratorium emosi. Jika selama sebulan mampu mengendalikan ego, maka setelahnya kita akan menjadi pribadi yang lebih tenang. Tidak mudah terpancing masalah,” bebernya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto