RADARSOLO.COM — Suasana halaman Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam setiap sore di bulan Ramadan tampak berbeda.
Ratusan warga berdatangan, duduk bersisian dengan para santri, menanti azan magrib berkumandang.
Tradisi buka bersama yang digelar pondok bukan sekadar acara tahunan, tetapi menjadi pintu masuk yang mempertemukan masyarakat umum dengan kehidupan pesantren dari dekat.
Ketua Panitia Ramadan 2026, Ustad Ilham Adyatmo, mengatakan rangkaian kegiatan di Pondok Pesantren Assalaam tahun ini cukup padat. Salah satu agenda utama adalah rukyatul hilal yang dilaksanakan pada awal Ramadan dan menjelang Syawal. Aktivitas itu sudah menjadi tradisi ilmiah sekaligus ibadah yang terus dijaga pondok.
“Untuk Ramadan tahun ini, kegiatan pertama kami adalah rukyatul hilal, baik pada awal Ramadan maupun Syawal,” ujar Ustad Ilham.
Selain rukyatul hilal, pondok juga membuka kajian dan buka bersama untuk umum. Inilah agenda yang setiap sore selalu menyedot perhatian. Masyarakat dari berbagai latar belakang hadir, meski kuotanya dibatasi.
“Kajian dan buka bersama ini memang untuk masyarakat luar, untuk semua lapisan. Tapi kami tetap membatasi kuota,” jelasnya.
Setiap hari, panitia menyiapkan sekitar 2.700 porsi makanan. Jumlah itu mencakup kebutuhan santri serta masyarakat umum yang hadir mengikuti kajian dan berbuka.
Dari total tersebut, sekitar 2.300 porsi dialokasikan khusus untuk santri. Sisanya—sekitar 750 porsi—untuk warga, pegawai, guru, hingga donatur.
Kegiatan buka bersama ini sebenarnya bukan hal baru.
Program itu sudah berjalan sejak sebelum 2020. Hanya saja, kapasitasnya terus meningkat seiring meluasnya antusiasme warga.
“Awalnya hanya sekitar 300 porsi, kemudian naik jadi 400. Tahun ini kami menyediakan 750 porsi,” katanya.
Antusiasme masyarakat sangat terasa. Banyak warga datang lebih awal demi memastikan mendapat tempat sebelum kuota terpenuhi.
“Antusiasme masyarakat sangat besar. Bahkan sudah ada yang antre sejak pukul 5 sore. Biasanya pukul setengah 6 kuota sudah penuh,” tambah Ustad Ilham.
Lebih dari sekadar berbagi makanan, panitia ingin membuka pintu pondok lebih lebar kepada warga. Selama ini, pesantren sering dianggap tertutup dan eksklusif.
Melalui momentum buka bersama, pondok ingin membuktikan hal sebaliknya.
“Lewat berbuka puasa ini, kami ingin mengenalkan bahwa pondok tidak seseram atau sesulit yang dibayangkan. Kami ingin masyarakat masuk dan melihat langsung kehidupan di sini,” ujarnya.
Selain buka bersama, Pondok Assalaam juga menggelar Pesantren Ramadan pada 11–12 atau 15 Maret untuk siswa SD kelas 4–6.
Ada pula tabligh akbar yang diadakan di awal Ramadan dan setiap hari Minggu, menggantikan kegiatan belajar mengajar.
Pada salah satu tabligh akbar, pondok mendatangkan seorang syekh asal Palestina bekerja sama dengan Adara Relief International.
Selain memberikan ceramah, agenda tersebut juga diisi penggalangan donasi bersama Lembaga Zakat Infak Sedekah Assalaam.
Memasuki 10 hari terakhir Ramadan, pondok turut membuka iktikaf untuk umum, dengan kuota 50 peserta
Rangkaian kegiatan ini melengkapi wajah keterbukaan Pondok Assalaam—menghadirkan pengalaman langsung tentang kehidupan pesantren yang hangat, inklusif, dan dekat dengan masyarakat. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy