Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pengalaman Unik Pelatih Bulu Tangkis Berpuasa di Negeri Cina, Sering Digojeki: Tuhan Kamu Berada di Indonesia

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Kamis, 5 Maret 2026 | 18:39 WIB

Numero Uno Amaranaya Berdhika (kanan), pelatih bulu tangkis asal Indonesia yang kini berkarier di Cina.
Numero Uno Amaranaya Berdhika (kanan), pelatih bulu tangkis asal Indonesia yang kini berkarier di Cina.

RADARSOLO.COM - Menjalani Ramadan di negeri orang tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Hal itu pula yang dirasakan Numero Uno Amaranaya Berdhika, pelatih bulu tangkis asal Indonesia yang kini berkarier di Cina.

Sejak enam bulan terakhir, dia menetap di Kota Linyi, Provinsi Shandong.

Di sana, Uno mengemban tugas sebagai pelatih kepala di klub bulu tangkis bernama Light Feather Flying Badminton Club. Perantauannya ke Tiongkok membuka babak baru dalam perjalanan karier sekaligus kehidupan spiritualnya.

Ramadan tahun ini menjadi pengalaman pertama baginya menjalani ibadah puasa di negara dengan mayoritas penduduk nonmuslim. Situasi tersebut membuatnya harus beradaptasi dengan berbagai keterbatasan, mulai dari lingkungan hingga fasilitas ibadah.

“Saya sekarang bekerja di Linyi Shandong, Cina, sebagai Head Coach Badminton di Light Feather Flying Badminton Club,” ucap Uno kepada tim Jawa Pos Radar Solo.

Budaya kerja, perbedaan makanan, serta sedikitnya masyarakat muslim di Linyi membuat Uno mengaku sempat mengalami kesulitan menyesuaikan diri, terlebih saat memasuki bulan Ramadan.

Kondisi tersebut membuatnya harus lebih cermat dalam mengatur waktu ibadah di tengah aktivitas pekerjaan.

Dia bahkan mengandalkan aplikasi di gawai untuk mengetahui jadwal salat dan waktu berbuka puasa.

“Untuk kendala tentunya pada jam kerja, lalu mencari makanan yang halal karena di sini sangat sedikit yang menjualnya dan tidak ada masjid. Jadi jam-jam salat dan berbuka puasa harus memantau melalui gawai,” ujarnya.

Belum lama menetap di sana juga membuat Uno masih dalam tahap beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat. Ia mengaku cukup terkejut dengan beberapa kebiasaan sehari-hari, termasuk cara makan yang berbeda dengan yang biasa ia temui di Indonesia.

Selain itu, jumlah warung makan muslim di sekitar tempat tinggalnya juga sangat terbatas. Kondisi tersebut membuatnya harus lebih selektif ketika mencari makanan halal. Meski demikian, Uno mengaku perlahan mulai terbiasa dengan situasi yang ada.

“Budayanya sedikit terkejut, apalagi tentang cara makan ya. Untuk muslim di daerah saya tinggali sedikit, ada warung makan muslim cuma hanya beberapa saja. Sebab ini menjadi Ramadan pertama saya di Cina, jadi saya belum terlalu familiar. Namun selama hampir dua minggu ini tidak ada kendala,” jelasnya.

Di tengah perbedaan budaya tersebut, ia juga sempat menghadapi candaan dari orang-orang di sekitarnya. Candaan itu berkaitan dengan kebiasaannya berpuasa yang dianggap unik oleh sebagian masyarakat setempat. Meski begitu, ia menganggapnya sebagai bagian dari interaksi sosial sehari-hari.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia tetap bersyukur karena lingkungan kerjanya cukup mendukung. Jadwal latihan yang padat tidak menghalanginya untuk tetap menjalankan ibadah puasa. Pihak klub juga memberikan kelonggaran waktu ketika momen berbuka puasa tiba.

“Menjadi muslim, masyarakat sana sempat menggoda saya dengan bercanda untuk tidak berpuasa karena Tuhan saya berada di Indonesia dan kamu sekarang di Cina," terangnya.

"Beruntungnya saya di sana, meski bekerja dari jam 6 hingga 7 sore, saya masih diberi waktu untuk berbuka puasa. Untuk puasa, saya jarang makan-makanan di luar dan lebih sering memasak. Di awal-awal saya ke Cina, saya masih sering beberapa kali makan di restoran muslim," pungkasnya.

Bagi Uno, Ramadan di negeri orang menghadirkan makna tersendiri. Keterbatasan fasilitas ibadah maupun komunitas muslim justru membuatnya lebih menghargai setiap momen berpuasa. Pengalaman ini juga memberinya pelajaran tentang bagaimana menjaga keyakinan di tengah lingkungan yang sangat berbeda.

Ia berharap pengalaman Ramadan pertamanya di Tiongkok bisa menjadi cerita berharga dalam perjalanan hidupnya. Meski jauh dari tanah air dan keluarga, ia tetap berusaha menjaga semangat beribadah seperti ketika berada di Indonesia. Baginya, Ramadan tetap menjadi bulan penuh berkah di mana pun ia berada. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
#cina #bulu tangkis