Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Momentum Indahnya Bulan Suci Ramadan, Lahirkan Toleransi dan Harmoni Sosial Di Tengah Perbedaan

Alfida Nurcholisah • Kamis, 5 Maret 2026 | 19:07 WIB

Ketua Dewan Kyai PPMI Assalaam Dwi Kusmira
Ketua Dewan Kyai PPMI Assalaam Dwi Kusmira

RADARSOLO.COM - Puasa menjadi momentum tepat dalam meningkatkan ibadah dan ketakwaan umat muslim kepada Allah SWT.

Di sisi lain, hadirnya bulan suci Ramadan memperkuat toleransi dan harmoni sosial di tengah kemajemukan masyarakat.

Ketua Dewan Kyai Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Dwi Kusmira menjelaskan, suasana ukhuwah Islamiyah semakin terasa saat Ramadan tiba.

Menurutnya, Ramadan memperlihatkan betapa indahnya ukhuwah Islamiyah.

“Umat muslim di seluruh dunia tanpa melihat golongan dan ras, berbondong-bondong memenuhi masjid untuk beribadah dan berbuka puasa bersama,” ujarnya, Kamis (5/3).

Dwi juga menyoroti kaum nonmuslim yang ikut memeriahkan suasana Ramadan dengan berbagi takjil. Menurutnya, harmoni perbedaan ini menjadi bentuk toleransi yang kuat di bulan suci.

“Budaya Ramadan di Indonesia menunjukkan tingkat toleransi yang baik. Banyak masjid, surau, kantor, hingga lembaga sosial menyediakan takjil gratis bagi masyarakat yang sedang dalam perjalanan. Bahkan tidak jarang juga melibatkan komunitas nonmuslim,” imbuhnya.

Menurutnya, masyarakat juga berusaha menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan suasana Ramadan.

Sebagian nonmuslim juga turut menghormati umat muslim yang berpuasa, dengan tidak makan atau merokok secara terang-terangan di tempat umum.

Masyarakat juga menjaga suasana lingkungan agar kondusif untuk ibadah tarawih dan sahur. Meningkatnya toleransi dan harmoni sosial selama Ramadan ini, tidak terlepas dari ajaran puasa itu sendiri.

Berpuasa, lanjut Dwi, berarti imsak atau menahan diri. Bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga dari perbuatan yang dilarang. Seperti berkata dusta, memfitnah, maupun memicu konflik.

Ia mengutip hadis Qudsi yang menyebutkan, bahwa orang yang berpuasa tetapi masih berkata bohong, mengadu domba, atau memfitnah, maka Allah SWT tidak membutuhkan puasanya yang hanya sekadar menahan makan dan minum.

“Ketika seseorang yang berpuasa diajak bertengkar atau bermusuhan, Nabi mengajarkan untuk mengatakan ‘saya sedang berpuasa’. Artinya, puasa menjadi sarana pengendalian diri agar tidak terjebak dalam konflik dan tetap menjaga ukhuwah terhadap sesama,” jelasnya.

Ramadan tahun ini, terdapat perbedaan dalam penentuan awal puasa di kalangan umat Islam. Namun, perbedaan tersebut tidak sampai memecah persatuan umat.

“Perbedaan ini tidak menjadikan umat Islam terbelah. Justru masyarakat semakin dewasa memaknai, bahwa perbedaan adalah rahmat yang harus dirawat dengan kasih sayang dan toleransi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, semangat toleransi dalam Ramadan juga selaras dengan nilai kebangsaan Indonesia yang menjunjung tinggi kebhinekaan.

“Puasa melahirkan kedekatan, kesatuan, dan jalinan kasih sayang dalam tiga bentuk persaudaraan. Yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam), ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan), dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan tanah air),” bebernya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Harmoni ramadan #Ramadan 1447 H #Ramadhan 1447 H #Ramadhan 1447 Hijriah #toleransi Ramadan #Ramadan 1447 Hijriah