RADARSOLO.COM – Menjalani ibadah Ramadan di negeri orang selalu menghadirkan cerita yang berbeda. Hal itu pula yang dirasakan Figlia Marcha Utama Berdhika, warga negara Indonesia (WNI) yang kini menetap di Jerman.
Berprofesi sebagai pengajar sekaligus menempuh pendidikan lanjutan, Figlia menjalani bulan suci dengan suasana yang jauh berbeda dibandingkan ketika berada di tanah air.
Ia kini tinggal di sebuah kota kecil di negara bagian Hessen. Jauh dari keramaian kota besar, kesehariannya tetap berjalan seperti biasa. Selain mengajar bahasa Jerman, Figlia juga melanjutkan studi untuk memperdalam ilmunya di bidang yang sama.
Menurut Figlia, Ramadan tahun ini relatif lebih mudah dijalani dari sisi durasi puasa. Hal itu karena bulan suci bertepatan dengan akhir musim dingin di Eropa, sehingga waktu berpuasa tidak sepanjang saat musim panas.
“Saya tinggal di sebuah kota kecil di negara bagian Hessen, Jerman. Jam puasa di sini hampir mirip dengan di Indonesia karena masih berada di akhir musim dingin,” ujar Figlia kepada Jawa Pos Radar Solo.
Pada minggu pertama Ramadan, ia menjalani puasa sekitar sebelas hingga dua belas jam. Waktu imsak tiba sekitar pukul 05.15, sementara waktu berbuka berada di kisaran pukul 17.45 waktu setempat.
“Pada minggu pertama Ramadan, waktu puasa sekitar pukul 05.15 hingga 17.45. Sementara pada minggu terakhir, waktunya menjadi lebih panjang, sekitar pukul 04.30 hingga 18.30,” jelasnya.
Meski durasi puasa masih terbilang bersahabat, tantangan lain justru datang dari lingkungan sekitar. Jumlah muslim di daerah tempat tinggalnya tidak terlalu banyak, sehingga nuansa Ramadan tidak semeriah seperti di Indonesia yang sarat dengan aktivitas keagamaan.
Di kotanya memang terdapat sebuah masjid yang dikelola oleh komunitas Turki. Masjid itu menjadi tempat berkumpul bagi umat muslim setempat untuk beribadah.
Namun, jika ingin bertemu dengan komunitas Indonesia, Figlia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh. Masjid yang sering menjadi tempat berkumpul warga Indonesia berada di Frankfurt.
“Jumlah muslim di sini tidak terlalu banyak, tetapi ada masjid milik komunitas Turki. Untuk masjid Indonesia, yang paling dekat berada di Frankfurt dengan jarak sekitar satu hingga satu setengah jam dari tempat saya,” tuturnya.
Soal makanan, Figlia menilai pilihan makanan halal di Jerman sebenarnya cukup tersedia.
Namun, ia tetap harus lebih selektif karena tidak semua produk daging di supermarket dapat dipastikan proses penyembelihannya sesuai dengan syariat Islam.
“Makanan halal sebenarnya cukup mudah ditemukan, meskipun tergantung tempatnya. Di supermarket biasa, untuk daging proses penyembelihannya sering kali tidak sesuai dengan syariat. Karena itu, saya cukup sering memilih makanan vegetarian,” ungkapnya.
Meski berbagai hal masih bisa disiasati, ada satu suasana yang paling ia rindukan dari Indonesia saat Ramadan tiba: tradisi berburu takjil menjelang waktu berbuka. Di Jerman, pemandangan tersebut hampir tidak pernah ditemui.
Tak ada deretan pedagang kolak, gorengan, atau es buah di pinggir jalan seperti yang biasa ia lihat di tanah air. Namun bagi Figlia, Ramadan tetap terasa istimewa.
Di tengah kesederhanaan dan jarak yang jauh dari Indonesia, ia tetap menjalani bulan suci dengan penuh syukur menjaga puasa, belajar, dan bekerja sambil menyimpan rindu pada hangatnya suasana Ramadan di kampung halaman. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy