Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Astelita Putri Veramasari, Wong Boyolali Berbagi Suasana Ramadan di Melbourne, Australia

Alfida Nurcholisah • Minggu, 8 Maret 2026 | 18:57 WIB

 

Astelita Putri Veramasari saat liburan ke Sidney, Australia.
Astelita Putri Veramasari saat liburan ke Sidney, Australia.

RADARSOLO.COM - Menjalani Ramadan di Australia menghadirkan pengalaman berbeda bagi Astelita Putri Veramasari, warga Kabupaten Boyolali.

Tinggal di Melbourne, Australia, ia merasakan suasana Ramadan yang superduper tenang.

Sebelum menetap di Aussie, Astelia sempat tinggal di Tiongkok selama hampir dua tahun.

Saat pindah ke Negeri Kanguru, ia merasakan suasana Ramadan yang jauh berbeda dibandingkan di Tanah Air.

“Di Indonesia kan suasana Ramadan sangat meriah. Orang-orang ramai ke masjid untuk Tarawih, tadarus, ngabuburit, dan buka bersama keluarga atau teman,” ujarnya.

Di Melbourne, Astelia selalu mendapat kemudahan dalam beribadah. Meski dianggap minoritas, namun komunitas muslim di sana mulai menjamur.

Alhamdulillah di Melbourne banyak komunitas muslim dari berbagai negara. Ada dari Timur Tengah, Pakistan, India, dan Indonesia. Bahkan dekat rumah ada surau, yang mayoritas jamaahnya orang Indonesia,” beber Astelia.

Nah, beda cerita jika tinggal di daerah regional atau pedesaan di Australia. Ia pernah merasakan itu.

“Kalau di daerah pelosok, masjid susah. Kadang satu kota hanya ada satu masjid, bahkan tidak ada sama sekali. Mencari makanan halal juga susah, kecuali di supermarket besar,” jelasnya.

Di Austalia, tidak semua masjid menyediakan ruang ibadah khusus perempuan.

“Perempuan kalau ingin salat di masjid, harus dicek dulu masjidnya. Woman friendly atau tidak?” pesan Astelia.

Satu lagi perbedaan paling terasa, yakni suasana Ramadan yang lebih tenang dibandingkan di Indonesia.

Di sana, masjid dilarang mengumandangkan adzan keras-keras demi menjaga ketenangan lingkungan sekitar.

“Adzan biasanya hanya terdengar di area dalam masjid saja. Kami juga harus menjaga, agar aktivitas ibadah tidak mengganggu tetangga,” jelas Astelia.

Apa pun tantangan yang dihadapi, Astelia bersyukur bisa dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan baik.

Apalagi pekerjaannya saat ini cukup fleksibel, karena bekerja sebagai disability care yang merawat penyandang disabilitas di rumah.

Alhamdulillah saya masih bisa salat tepat waktu. Tapi tetap saja kangen suasana Ramadan yang ramai di Boyolali. Bisa tarawih, tadarusan, ngabuburit, dan buka puasa bersama keluarga besar dan teman-teman,” bebernya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Ramadan 1447 H #Ramadhan 1447 Hijriah #suasana ramadan di australia #cerita wong boyolali ramadan di australia #Ramadan 1447 Hijriah #cerita wni ramadan di australia