Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Muhammadiyah Solo Raya Bedah KHGT: Upaya Satukan Tanggal Ramadan dan Idul Fitri di Seluruh Dunia

Kabun Triyatno • Senin, 9 Maret 2026 | 13:10 WIB

Pengamatan hilal 1 Ramadan Tim Falakiyah MAN 1 Solo. (M Ihsan/Radar Solo)
Pengamatan hilal 1 Ramadan Tim Falakiyah MAN 1 Solo. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Gagasan penyatuan penanggalan Islam di tingkat dunia kembali menjadi sorotan dalam Pengajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah se-Solo Raya. Bertempat di Universitas Muhammadiyah Solo (UMS), Minggu (8/3), para pakar membedah urgensi penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai solusi atas seringnya perbedaan penentuan awal bulan suci.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Agus Purwanto menjelaskan, KHGT bertujuan untuk menyatukan tanggal Hijriah di seluruh muka bumi agar selaras dengan kalender Masehi.

“Maksudnya, satu Ramadan itu satu tanggal bersama-sama di kalender Masehi. Jika satu Ramadan jatuh pada 19 Februari, maka di seluruh muka bumi pun akan sama,” ungkap Agus.

Agus menekankan bahwa KHGT memiliki akar sejarah yang panjang, bermula dari usulan ahli hadis Mesir Syekh Ahmad Muhammad Syakir pada 1939. Gagasan ini terus berevolusi melalui berbagai forum internasional.

Pada 1978 pembahasan konsep di Turki, 2008 deklarasi Dakar oleh OKI menyerukan penyatuan kalender dunia, 2015 Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar mengamanatkan pengembangan kalender global.

Kemudian 2016 digelar Konferensi Internasional Istanbul menghasilkan konsensus teknis KHGT, dan 2024 di Munas Tarjih di Pekalongan menetapkan KHGT sebagai arah baru kalender Islam Muhammadiyah.

“Jadi KHGT ini sudah diperjuangkan sejak hampir satu abad yang lalu, bukan ide yang muncul tiba-tiba,” tegasnya.

Secara syari, Agus menjelaskan bahwa KHGT tidak bertentangan dengan dalil keislaman. Baik Alquran maupun hadis memberikan ruang bagi penggunaan metode hisab dan rukyat. Namun, KHGT melangkah lebih jauh dengan mengedepankan prinsip universalisme Islam dan persatuan umat.

“Dasar utamanya adalah kesatuan umat, universalitas Islam, serta koordinasi waktu ibadah haji dan Arafah agar seragam secara global,” tambahnya.

Dalam implementasinya, Muhammadiyah membangun KHGT di atas lima pilar fundamental. Metode hisab yaitu penerimaan perhitungan astronomis sebagai dasar mutlak. Transfer imkanur rukyat, konsep di mana jika hilal terlihat di satu titik bumi, maka berlaku untuk seluruh dunia. Kesatuan kalender mutlak, tidak ada lagi perbedaan tanggal antarwilayah. Keselarasan hari dan tanggal yang sama di seluruh belahan dunia. Garis tanggal internasional, yaitu penerimaan konvensi waktu dunia sebagai acuan teknis.

Dengan matangnya konsep ini, Muhammadiyah berharap KHGT dapat menjadi kado bagi peradaban Islam modern, mengakhiri kebingungan umat terkait perbedaan hari raya, dan memperkokoh ukhuwah Islamiyah secara global. (alf/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#perbedaan #muhammadiyah #Ramadan #Kalender Hijriyah Global Tunggal #kalender masehi #solusi