Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Hati-Hati Sifat Israf Saat Berbuka Puasa Ramadan, Picu Lapar Mata Dan Santap Makanan Berlebihan

Alfida Nurcholisah • Senin, 9 Maret 2026 | 16:52 WIB

 

Ilustrasi pengunjung menyantap makanan ringan saat waktu berbuka puasa bersama (bukber) di Masjid Raya Skeikh Zayed Solo, belum lama ini.
Ilustrasi pengunjung menyantap makanan ringan saat waktu berbuka puasa bersama (bukber) di Masjid Raya Skeikh Zayed Solo, belum lama ini.

RADARSOLO.COM - Sering dijumpai umat mulsim israf atau berlebih-lebihan saat berbuka puasa di bulan suci Ramadan.

Padahal budaya membeli dan menyajikan makanan secara berlebihan, bertentangan dengan nilai utama puasa yang menekankan pengendalian diri.

Ketua Majelis Pendidikan Yayasan Majelis Pendidikan Islam Bashir Mujahid menjelaskan, Islam telah memberikan peringatan tegas agar umat muslim tidak berlebihan saat makan dan minum.

Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, yang memerintahkan untuk makan dan minum, tetapi tidak berlebihan. Seban Allah SWT tidak menyukai orang yang melampaui batas.

Menurut Bashir, fenomena israf saat berbuka puasa sering dipicu kondisi psikologis saat berpuasa.

Ketika siang hari, tubuh akan merasakan lapar dan haus. Maka seseorang cenderung tergoda dengan berbagai makanan dan minuman yang terlihat atau dibayangkan.

“Sering kali terjadi apa yang disebut lapar mata. Karena seharian menahan lapar, saat berbuka kita ingin menyediakan banyak makanan. Padahal inti dari berbuka itu sebenarnya hanya membatalkan puasa, bukan pesta makanan,” ujarnya, Senin (9/3).

Ketua Majelis Pendidikan Yayasan Majelis Pendidikan Islam Bashir Mujahid.
Ketua Majelis Pendidikan Yayasan Majelis Pendidikan Islam Bashir Mujahid.

Ia menjelaskan, Ramadan merupakan bulan latihan pengendalian diri dari berbagai dorongan nafsu, termasuk kebutuhan biologis seperti makan dan minum.

Pada siang hari, umat Muslim dilatih menahan diri sepenuhnya dari dua hal tersebut.

Namun pada praktiknya, Ramadan justru sering menjadi periode dengan tingkat konsumsi pangan yang tinggi.

Banyaknya pilihan takjil, promo makanan, hingga kebiasaan berbuka bersama kerap mendorong untuk membeli makanan dalam jumlah besar.

“Padahal Islam sudah memberi batasan yang jelas, bahwa makan dan minum diperbolehkan pada malam hari. Tetapi tetap tidak boleh berlebihan,” jelasnya.

Takaran sederhana untuk menghindari israf, yakni tidak berlebihan dalam porsi makan dan minum saat berbuka.

Selain itu, seseorang juga dianjurkan tidak sampai kekenyangan dan tidak berlebihan saat membeli makanan.

Saat membatalkan puasa, sebaiknya cukup dengan sesuatu yang sederhana. Seperti minum seteguk air, serta makan sebutir kurma atau sepotong buah.

Setelah itu, makan secukupnya untuk mengembalikan tenaga agar tubuh bisa kembali beraktivitas dan menjalankan ibadah.

“Kalau makan terlalu banyak, justru membuat tubuh terasa berat dan malas beribadah. Ini bertentangan dengan tujuan puasa sebagai latihan pengendalian diri,” bebernya.

Bashir juga mengingatkan adab berbuka puasa yang membantu menghindari perilaku berlebihan.

Di antaranya menyegerakan berbuka, berbuka dengan makanan sederhana, serta memanjatkan doa saat berbuka.

Menurutnya, Ramadan tidak hanya mengajarkan menahan lapar dan haus pada siang hari, tetapi juga kontrol diri di malam hari.

“Ketika siang hari mampu menahan diri, maka saat malam hari seharusnya juga bisa mengendalikan diri agar tidak makan berlebihan. Itulah esensi puasa untuk membentuk ketakwaan,” paparnya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Ramadan 1447 H #Ramadhan 1447 Hijriah #Israf #Ramadan 1447 Hijriah #apa itu israf saat buka puasa #Puasa Ramadan #pengertian israf saat buka puasa