Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Tips Mengelola Emosi saat Berpuasa Ramadan: Segerakan Berwudu

Alfida Nurcholisah • Rabu, 11 Maret 2026 | 11:28 WIB

Ilustrasi membaca ayat suci Alquran usai berwudu, merupakan salah satu cara meredakan emosi saat amarah memuncak di bulan suci Ramadan.
Ilustrasi membaca ayat suci Alquran usai berwudu, merupakan salah satu cara meredakan emosi saat amarah memuncak di bulan suci Ramadan.

RADARSOLO.COM - Bulan suci Ramadan tidak hanya momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri. Termasuk dalam urusan menjaga emosi.

Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Solo Alfian Nidlor menjelaskan, nuansa Ramadan di Kota Bengawan selalu menghadirkan dinamika tersendiri.

Aktivitas masyarakat yang meningkat menjelang berbuka puasa, sering menyebabkan padatnya arus lalu lintas. Kondisi ini kerap memicu kelelahan dan meningkatnya tensi emosi.

“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa adalah latihan besar untuk mengendalikan diri ketika tubuh sedang lelah dan perut terasa lapar,” jelas Alfian, Rabu (11/3).

Alfian menambahkan, dalam Alquran manusia diingatkan akan dorongan nafsu yang dapat membawa pada keburukan jika tidak dikendalikan.

Sebagaimana disebutkan dalam QS Yusuf ayat 53, yang menegaskan bahwa nafsu selalu mendorong kepada keburukan, kecuali bagi mereka yang mendapat rahmat dari Allah SWT.

Karena itu, Rasulullah SAW memberikan nasihat sederhana namun mendalam kepada umatnya untuk menahan amarah.

“Rasulullah bersabda, janganlah engkau marah, maka bagimu surga. Ini menunjukkan bahwa mengendalikan emosi merupakan bagian penting dari akhlak seorang muslim,” imbuhnya.

Alfian juga mengutip hadis Nabi yang menyebutkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan fisik, melainkan kemampuan seseorang mengendalikan diri ketika marah.

Nilai ini, menurut Alfian, menjadi salah satu tujuan utama latihan spiritual selama bulan suci Ramadan.

Selain itu, QS Ali Imran ayat 134 menggambarkan ciri orang bertakwa, yakni mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Sikap tersebut tidak hanya mencerminkan pribadi yang saleh, tetapi juga membangun harmoni dalam kehidupan sosial.

Alfian menambahkan lagi, Rasulullah juga memberikan cara praktis ketika seseorang mulai diliputi amarah, yakni dengan berwudu.

“Dalam hadis disebutkan, bahwa marah berasal dari setan yang diciptakan dari api. Sedangkan api dapat dipadamkan dengan air. Karena itu, Rasulullah menganjurkan untuk berwudu ketika sedang marah,” bebernya.

Menurut Alfian, Ramadan pada dasarnya merupakan madrasah bagi jiwa.

Melalui ibadah puasa, umat Islam dilatih untuk mengendalikan berbagai dorongan. Termasuk emosi yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapannya, setelah Ramadan kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih bijak, dan mampu menghadirkan keteduhan dalam kehidupan sosial,” ujarnya.

Sementara itu, nilai-nilai kesabaran dan kelembutan sejalan dengan budaya wong Solo.

Mereka dikenal ramah dan santun, tercermin dari sapaan “monggo” yang akrab digunakan dalam kehidupan sehari-hari. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Ramadhan 1447 H #Ramadhan 1447 Hijriah #menahan emosi saat puasa #kemenag solo #Ramadan 1447 Hijriah #Puasa Ramadan