RADARSOLO.COM - Menjalani Ramadan di luar negeri, memberikan pengalaman tersendiri bagi banyak mahasiswa asal Indonesia.
Selain perbedaan budaya, durasi puasa yang lebih panjang dan perbedaan iklim, menjadi tantangan tersendiri.
Seperti dialami Karebeth Wahyu Firmansyah, 25, mahasiswa Leiden Universiteit Belanda, asal Kabupaten Boyolali.
Perbedaan suasana Ramadan menghinggapi benak Karebeth, sejak tinggal di Kota Leiden, Belanda, Februari lalu. Di sana, ia menetap di hunian mahasiswa Stichting Duwo, bersama beberapa mahasiswa asal Indonesia.
Sebagai muslim yang taat beribadah, Karebeth tak pernah bolong berpuasa di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah ini.
Meskipun suasana Ramadan terasa berbeda dibandingkan di kampung halamannya di Kota Susu.
“Di sini tidak ada budaya takjil seperti Indonesia. Penjual makanan juga tidak sebanyak di sana. Selain itu, kami tidak mendengar kumandang adzan sebagai penanda waktu berbuka puasa. Jadi hanya mengandalkan jam dan jadwal salat lokal,” ujar Karebeth kepada Jawa Pos Radar Solo melalui pesan elektronik.
Baru pertama menginjakkan kaki di negeri orang, adaptasi menjadi kedala utama. Saat pertama tiba di Leiden, ia kaget dengan kondisi cuaca yang sangat ekstrem. Dinginnya menusuk tulang.
“Pertama datang ke sini, hawanya dingin sekali. Otomatis perut rasanya jadi cepat lapar,” beber Karebeth.
Kendala lainnya, yakni terbatasnya warung atau restoran yang menyediakan menu halal.
“Pernah dapat resto menu halal, tapi setelah dicoba malah rasanya hambar. Saya sempat bercanda dalam hati, mungkin ini alasan penjajah Belanda dulu betah di Indonesia,” ujarnya.
Tantangan lain yang dihadapi, yakni aspek sosial. Baru seumuran jagung menetap di Leiden, alhasil Karebeth belum banyak mengenal komunitas di sana.
Selain itu, perbedaan musim juga cukup memengaruhi kondisi fisik.
“Paling kngen itu momen berbuka puasa bersama keluarga dan teman-teman. Ada makanan khas Ramadan, serta menengar kumandang adzan saat Magrib,” bebernya.
Beruntung, komunitas muslim di negeri Kincir Angin cukup aktif. Khusus Kota Leiden, komunitas muslim dan diaspora berkumpul di Masjid Al Hijra.
“Kalau masjid yang lebih besar lagi, adanya di Kota Utrecht dan Rotterdam,” jelas Karebeth.
Beralih ke ibadah salah Tarawih, umat muslim di Leiden menunaikannya setelah salat Isya, atau sekira pukul 21.00 waktu setempat. Jumlah rakaatnya bervariasi, mulai dari 11-23 rakaat.
“Hampir sama dengan di Indonesia. Kalau saya biasanya salat Tarawih 11 rakaat,” ujarnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto