RADARSOLO.COM – Umat Muslim di Indonesia saat ini tengah diuji dengan cuaca panas terik yang menyengat di penghujung bulan puasa Ramadan 1447 H.
Setelah sempat diguyur hujan pada awal puasa, suhu udara kini melonjak drastis hingga mencapai angka 37 derajat Celsius.
Kondisi ini menuntut fisik yang prima agar ibadah puasa tetap berjalan lancar tanpa terganggu risiko kesehatan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa suhu udara maksimum tertinggi dalam beberapa hari terakhir tercatat di Provinsi Papua Selatan mencapai 37°C.
Sementara itu, rata-rata wilayah Indonesia lainnya berada pada kisaran 32,9 hingga 35 derajat Celsius.
Lantas, apa penyebabnya dan bagaimana cara agar tubuh tetap kuat berpuasa?
Mengapa Cuaca Terasa Sangat Panas?
Menurut Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, fenomena panas menyengat ini dipicu oleh beberapa faktor atmosfer dan astronomi:
1. Gerak Semu Matahari
Posisi matahari saat ini berada di dekat garis khatulistiwa (ekuator), sehingga wilayah Indonesia menerima intensitas radiasi matahari secara maksimal.
2. Minimnya Tutupan Awan
Langit yang cerah tanpa awan membuat sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa penghalang alami.
3. Fenomena MJO
Pergeseran Madden Julian Oscillation (MJO) menjauhi Indonesia bagian barat hingga tengah, menyebabkan pembentukan hujan menjadi tidak merata.
4. Masa Pancaroba
Transisi menuju musim kemarau membuat kondisi atmosfer lebih kering dan gerah.
Strategi Tetap Bugar Puasa di Tengah Panas Ekstrem
Agar tubuh tidak cepat lemas dan terhindar dari penyakit akibat panas (heat-related illness), berikut adalah langkah-langkah pencegahan yang disarankan:
1. Management Hidrasi Saat Sahur dan Buka
Pastikan Anda memenuhi kebutuhan cairan tubuh minimal 2 liter per hari. Gunakan pola 2-4-2:
- 2 Gelas saat berbuka
- 4 Gelas saat malam hari hingga menjelang tidur
- 2 Gelas saat sahur
Hindari minuman berkafein (kopi/teh) berlebihan karena bersifat diuretik yang mempercepat pengeluaran urine.
2. Lindungi Diri dari Paparan Langsung
Hindari aktivitas fisik berat di luar ruangan pada puncak panas, yakni pukul 10.00 hingga 14.00 WIB.
Jika terpaksa keluar, gunakan alat pelindung seperti topi lebar, kacamata hitam, atau payung untuk mengurangi radiasi langsung ke kulit.
3. Pilih Pakaian yang Tepat
Gunakan pakaian berbahan tipis (seperti katun), longgar, dan berwarna cerah.
Warna cerah membantu memantulkan panas, sementara pakaian longgar memberikan sirkulasi udara yang lebih baik bagi tubuh.
4. Turunkan Suhu Tubuh Secara Alami
Mandi dengan air dingin atau mengompres bagian lipatan tubuh (leher, ketiak) dengan kain basah dapat membantu menurunkan suhu inti tubuh yang terlalu tinggi akibat cuaca ekstrem.
Waspadai Gejala Bahaya Dehidrasi hingga Heatstroke
Paparan panas berlebih saat perut kosong dapat memicu kondisi fatal jika diabaikan.
Segera batalkan puasa atau cari pertolongan medis jika Anda atau orang sekitar mengalami gejala berikut:
- Dehidrasi Berat: Haus yang sangat intens, urine berwarna pekat, dan kelelahan luar biasa.
- Heat Exhaustion: Pusing, mual, sakit kepala, dan keringat berlebih.
- Heatstroke: Suhu tubuh naik di atas 40°C, kulit kering dan panas, kebingungan mental, hingga pingsan. Ini adalah kondisi darurat medis.
Kapan Butuh Bantuan Medis?
Lantas, kapan gejala terpapar panas memerlukan penanganan ahli?
Walaupun gangguan suhu tubuh ringan bisa ditangani secara mandiri, kondisi tertentu masuk dalam kategori darurat medis.
Apabila ditemukan tanda-tanda seperti hilangnya kesadaran, disorientasi mental, kulit yang terasa gersang dan panas, hingga kejang, segera bawa pasien ke unit gawat darurat.
Gejala-gejala tersebut mengarah pada heatstroke yang berisiko fatal jika tidak segera ditangani oleh tenaga medis
Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) memprediksi suhu di atas normal ini dapat bertahan hingga Mei 2026.
Oleh karena itu, menjaga ritme aktivitas dan asupan nutrisi saat berbuka dan sahur menjadi kunci utama agar kemenangan di Idul Fitri dapat diraih dengan kondisi fisik yang sehat. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria