Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Ramadan dalam Perspektif Kebangsaan dan Semangat Persatuan: Ukhuwah Perkuat Harmoni Sosial

Alfida Nurcholisah • Minggu, 15 Maret 2026 | 15:56 WIB

 

Ilustrasi seorang ibu menyuapi anaknya saat berbuka puasa bersama ribuan jamaah lainnya di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Minggu (15/3).
Ilustrasi seorang ibu menyuapi anaknya saat berbuka puasa bersama ribuan jamaah lainnya di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Minggu (15/3).

RADARSOLO.COM - Bulan Ramadan memiliki makna penting dalam memperkuat kehidupan sosial dan kebangsaan.

Nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa, dinilai mampu membentuk karakter masyarakat yang lebih peduli, disiplin, serta menjaga persatuan.

Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kota Solo Muhammad Arif Taftazani menjelaskan, Ramadan merupakan sarana pembinaan keimanan sekaligus pembentukan karakter umat.

Sebagaimana dijelaskan dalam QS Surah Al-Baqarah ayat 183, bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat ketakwaan.

“Puasa tidak hanya bermakna menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih manusia untuk menahan hawa nafsu. Serta menjaga perilaku dari hal-hal yang merusak hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia,” ujar Arif, Minggu (15/3).

Arif menambahkan, menurut perspektif para ulama, ketakwaan memiliki dimensi yang luas. Bukan sekadar bersifat ritual, tetapi juga sosial. Karena itu, Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kota Solo Muhammad Arif Taftazani.
Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kota Solo Muhammad Arif Taftazani.

Salah satu nilai penting yang diajarkan Ramadan, yakni persatuan atau ukhuwah.

Melalui berbagai aktivitas ibadah seperti salat Tarawih, tadarus Alquran, hingga berbuka puasa bersama, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat berkumpul dan berinteraksi tanpa memandang perbedaan status sosial maupun budaya.

“Nilai persaudaraan ini sangat penting dalam kehidupan berbangsa yang majemuk seperti Indonesia. Dengan semangat ukhuwah, perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk membangun harmoni sosial,” jelas Arif.

Selain itu, Ramadan juga menjadi momentum untuk menumbuhkan kepedulian sosial melalui ibadah zakat, infak, dan sedekah.

Tradisi berbagi yang semakin meningkat pada bulan suci, dinilai mampu memperkuat solidaritas antarwarga. Sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan.

“Dalam Ramadan, umat Islam diajak merasakan kondisi saudara-saudara yang kurang mampu. Dari situlah muncul empati dan dorongan untuk saling membantu,” katanya.

Puasa juga melatih kedisiplinan dan pengendalian diri. Seorang Muslim dituntut menjaga diri sejak terbitnya fajar hingga terbenam matahari.

Tidak hanya dari hal yang membatalkan puasa, tetapi juga perbuatan yang dapat merusak nilai ibadah.

Menurutnya, pembentukan karakter seperti kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab yang dilatih selama Ramadan memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Bangsa yang kuat tidak hanya ditentukan oleh sistem yang baik, tetapi juga kualitas moral manusianya. Jika nilai-nilai Ramadan seperti kejujuran, kesabaran, dan kepedulian sosial dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka persatuan dan stabilitas sosial akan semakin kukuh,” ungkapnya.

Arif berharap nilai-nilai yang tumbuh selama bulan suci tidak hanya berhenti pada ritual ibadah. Tetapi juga membawa dampak positif bagi kehidupan bermasyarakat dan kebangsaan. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Ramadan #kemenag solo #ramadhan #perspektif kebangsaan #Ukhuwah