RADARSOLO.COM - Mendekati penghujung bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, waktu yang tepat bagi umat muslim untuk refleksi diri. Berkaca sejauh mana ibadah dan nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan selama Ramadan.
Kepala Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Farid Akbar menjelaskan, bulan Ramadan hakikatnya merupakan sarana pendidikan spiritual yang sangat bermakna bagi setiap muslim.
Menurutnya, Ramadan adalah momentum untuk mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik, sabar, dan lebih dekat dengan Allah SWT.
Selama satu bulan penuh umat muslim menjalani rangkaian ibadah seperti puasa, salat Tarawih, membaca Alquran, memperbanyak doa, sedekah, dan sebagainya.
Rangkaian ibadah tersebut tidak hanya meningkatkan hubungan dengan Allah, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Salah satu hikmah utama dari ibadah puasa, yakni melatih kemampuan mengendalikan diri. Saat berpuasa, seseorang belajar menahan hawa nafsu, menjaga ucapan, serta mengendalikan emosi.
“Puasa mengajarkan kita untuk tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari sikap dan perilaku yang tidak baik,” kata Farid.
Ramadan juga mengajarkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah puasa merupakan ibadah yang sangat personal, antara seorang hamba dengan Allah SWT.
Karena itu, kejujuran menjadi nilai penting yang dilatih sepanjang Ramadan.
“Ibadah puasa adalah komunikasi istimewa antara seorang hamba dengan Allah. Ketika seseorang berpuasa, ia dilatih untuk jujur, karena sadar bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatannya,” jelasnya.
Selain itu, Ramadan juga melatih kedisiplinan waktu.
Aktivitas sahur, berbuka puasa, salat wajib, serta berbagai ibadah lainnya mengajarkan umat muslim untuk mengatur waktu dengan baik.
“Kita belajar disiplin dari Ramadan. Ada waktu untuk menahan diri, dan ada waktu untuk berbuka. Kebiasaan ini sebenarnya melatih kita untuk menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Hikmah lain dari Ramadan, yakni menumbuhkan kepedulian sosial.
Dengan merasakan lapar dan haus, seseorang akan lebih mudah memahami penderitaan orang lain yang hidup serba kekurangan.
“Ketika merasakan lapar dan haus, kita akan lebih peka terhadap kondisi saudara-saudara yang kurang beruntung. Dari situlah muncul empati dan keinginan untuk berbagi,” beber Farid.
Menurut Farid, nilai-nilai yang terkandung dalam Ramadan seharusnya tidak berhenti setelah bulan suci berakhir.
Ia berharap umat muslim memanfaatkan bulan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki diri, sekaligus meningkatkan kualitas ibadah.
“Semoga Ramadan ini benar-benar menjadi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujarnya.
Tak lupa, Farid juga mengajak umat muslim untuk memanjatkan doa di akhir bulan Ramadan agar ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna'. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan kepada kita semua, serta mempertemukan kita kembali dengan Ramadan yang akan datang,” jelas Farid. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto