PONDOK Pesantren (Ponpes) Raudlatul Muhibbin Al Musta’iniyyah Karangasem, Laweyan, Solo menghadirkan tradisi keilmuan Alquran yang langka selama Ramadan 1447 Hijriah.
Melalui program Tarawih Qiraat ‘Asyarah Kubro, para santri mampu menuntaskan khataman 30 juz yang dibaca secara bertahap setiap malam.
Dalam prosesnya, khataman tersebut dilakukan dengan membaca 1-1,5 juz setiap malam dalam salat Tarawih 20 rakaat.
Dengan pola ini, 30 juz Alquran dapat diselesaikan selama Ramadan.
Kegiatan tersebut menghadirkan ulama internasional asal Mesir, Syekh Dr. Ro’i Makarim.
Ratusan santri, tokoh agama, dan masyarakat antusias mengikuti rangkaian Tarawih sekaligus kajian Alquran.
Ketua panitia Firdaus Al Hafidz mengatakan, program ini bagian dari upaya pesantren untuk menghidupkan tradisi keilmuan Alquran di bulan suci.
Firdaus menambahkan, para santri tidak hanya menghafal Alquran. Mereka juga mempelajari ragam bacaan (qiraat) yang memiliki sanad keilmuan jelas.
“Bukan hanya ibadah, tetapi juga ikhtiar mengenalkan kekayaan khazanah ilmu qira’at kepada masyarakat,” jelasnya, Senin (16/3).
Ketua Yayasan Raudlatul Muhibbin Wassim Ahmad Fahruddin menegaskan, tradisi qira’at merupakan bagian penting dalam menjaga kemurnian bacaan Alquran.
“Pesantren memiliki tanggung jawab melestarikan ilmu qira’at, sebagai bagian dari ulumul Quran yang diwariskan para ulama,” bebernya.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Solo Ulin Nur Hafsun. Menurutnya, kegiatan tersebut langka dan patut diapresiasi.
“Saya rasa ini pesantren pertama yang saya temui, yang menggelar Tarawih dengan Qiraat ‘Asyarah Kubro. Ini luar biasa dalam menjaga tradisi keilmuan Alquran,” ujarnya.
Menurut Ulin, ilmu qira’at menunjukkan kekayaan metode membaca Alquran yang tetap bersumber dari Rasulullah SAW. Maka harus terus dijaga melalui pendidikan pesantren.
“Khataman qira’at seperti ini menjadi wujud nyata dalam melahirkan generasi Qurani yang tidak hanya hafal, tetapi juga memahami Alquran,” bebernya.
Dalam tausiyahnya, Syekh Dr. Ro’i Makarim berpesan agar para santri tidak berhenti pada hafalan semata, melainkan melanjutkan dengan mempelajari tafsir dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf.
“Alquran tidak cukup hanya dihafal, tetapi harus dipahami agar menjadi pedoman hidup,” pesannya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto