Tradisi Ramadan di Indonesia tidak hanya diisi dengan ibadah puasa, salat Tarawih, iktkaf, hingga tadarus Alquran.
Selain itu, juga diwarnai berbagai tradisi khas daerah seperti bedug, takbir keliling, dugderan, dan megengan. Ini bukti kuatnya ukhuwah islamiyah di tanah air.
Pembina Lembaga Bahtsul Masail Pondok Pesantren (Ponpes) Al Muayyad Ahmad Muhamad Mustain Nasoha menjelaskan, menurut perspektif fiqh, tradisi yang berkembang di masyarakat dapat diterima selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Ini sejalan dengan konsep urf (adat dan kebiasaan) yang diakui dalam kajian hukum Islam.
“Seperti yang dijelaskan Jalaluddin As-Suyuthi dalam kaidah fiqh, selama tradisi tersebut tidak melanggar prinsip syariat, maka dapat menjadi bagian dari praktik keagamaan yang hidup di masyarakat,” ujar Mustain, Selasa (17/3).
Penggunaan bedug misalnya, menurut Mustain bisa dipahami sebagai sarana untuk mengingatkan waktu ibadah.
Dalam kajian ushul fiqh, ini termasuk dalam konsep wasail al-ibadah, yakni sarana yang membantu terlaksananya ibadah.
“Sama halnya dengan takbir keliling pada malam Idul Fitri. Ini bentuk ekspresi kegembiraan umat muslim setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa. Sudah sesuai dengan anjuran untuk mengagungkan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam Alquran dan hadist,” jelas Mustain.
Tradisi lain seperti megengan yang berkembang di masyarakat Jawa, juga memiliki nilai sosial yang tinggi.
Kegiatan berkumpul, berdoa, dan berbagi makanan mencerminkan semangat ukhuwah dan kepedulian sosial.
“Dalam perspektif akhlak, praktik ini sejalan dengan ajaran Abu Hamid Al-Ghazali yang menekankan pentingnya berbagi dan menjaga hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.
Baca Juga: Pesantren Ramadan Di SD Muhammadiyah PK Kottabarat Diikuti 166 Siswa
Mustain menilai, tradisi dugderan sebagai penanda datangnya Ramadan dipandang sebagai bentuk pengagungan syiar Islam.
Sesuai dengan firman Allah dalam Alquran, terkait pentingnya mengagungkan syiar-syiar agama sebagai bagian dari ketakwaan.
“Tradisi Ramadan nusantara sejatinya merupakan hasil interaksi harmonis antara ajaran Islam dan budaya lokal. Ini menjadi kekuatan dalam dakwah, karena dekat dengan masyarakat,” jelasnya.
Mustain menegaskan, selama tradisi tersebut tidak mengandung unsur kemaksiatan dan tetap berada dalam koridor syariat, maka keberadaannya justru memperkuat identitas keislaman. Termasuk berfungsi menjaga harmoni sosial.
“Dengan demikian, tradisi Ramadan nusantara bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga media dakwah yang menghidupkan syiar Islam. Sekaligus menanamkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan umat,” paparnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto