RADARSOLO.COM - Momentum hari raya Idul Fitri tidak hanya dimaknai berakhirnya ibadah puasa Ramadan.
Tetapi juga momentum penting untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.
Kewajiban puasa Ramadan menurut Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Surakarta Muhammad Ishom, sebagaimana termaktub dalam QS Al-Baqarah ayat 183.
Di mana puasa bertujuan membentuk pribadi yang bertakwa.
Menurut Ishom, puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Tetapi juga melatih kejujuran dan ketaatan kepada Allah SWT.
“Ramadan menjadi bulan maghfirah atau pengampunan dosa, di mana Allah SWT menjanjikan ampunan bagi umat muslim yang menjalankan puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan,” jelasnya, Rabu (18/3).
Namun tidak semua dosa otomatis diampuni. Dosa kepada Allah (haqqullah) dapat dihapus dengan taubat.
Sedangkan dosa kepada sesama manusia (haqqul adami) harus diselesaikan melalui saling memaafkan.
Ini menjadi dasar pentingnya tradisi silaturahi saat Idul Fitri.
Momentum Lebaran dimanfaatkan masyarakat untuk saling berkunjung, memperbaiki hubungan, dan menghapus kesalahan masa lalu.
Rasulullah SAW bersabda: “Kenalilah nasab-nasabmu, maka tali persaudaraanmu akan terus bersambung.” (HR Bukhari).
Ishom menjelaskan, hadis tersebut mempertegas bahwa mengenal nasab atau garis keturunan penting dilakukan. Sebab dengan ini, persaudaraan atau silaturahmi akan terus terjalin.
“Sebaliknya, hubungan persaudaraan sedekat apa pun bisa menjadi jauh, jika tidak pernah silaturahmi,” imbuhnya.
Dalam konteks ini, tradisi halal bi halal yang berkembang di Indonesia sangat mencerminkan anjuran Rasulullah.
Tradisi ini memudahkan masyarakat untuk saling memaafkan, tanpa terhalang rasa malu atau perbedaan status sosial.
"Idul Fitri memiliki makna kembali kepada kesucian. Sebagaimana manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah,” bebernya.
Mencapai kondisi tersebut, ada dua syarat utama, yaitu menjalankan puasa Ramadan dengan benar dan menyelesaikan segala kesalahan dengan sesama manusia.
“Tanpa menyelesaikan urusan dengan sesama, kesucian Idul Fitri belum sepenuhnya tercapai,” tegasnya.
Sementara itu, di Hari Raya Idul Fitri, umat muslim dianjurkan makan sebelum salat Id. Sebagai tanda berakhirnya puasa sekaligus wujud rasa syukur.
“Jangan sampai memasuki bulan Syawal masih ada dosa kepada sesama yang belum terselesaikan. Perpaduan antara ibadah puasa Ramadan dan tradisi silaturahmi, menjadi jalan untuk meraih fitri yang hakiki, yakni kembali suci lahir dan batin,” bebernya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto